Oleh : Zamid al Zihar
Sudah menjadi sifat manusia kalau selalu
tidak merasa puas terhadap sesuatu yang didapatkannya. Mengejar apa yang
diinginkan seolah menjadi suatu kewajiban yang harus terealisir. Barangkali hal
ini positif bila yang dimaksud menginginkan sebuah ilmu, akan tetapi lain
halnya apabila yang dikejar sejumlah harta kekayaan. Berkeinginan lebih dari
yang lain dan ingin dipandang terhormat adalah suatu keniscayaan yang
senantiasa melekat dalam jiwa manusia. Itulah sebabnya, mengapa seringkali
terjadi gejolak social, penyelewangan serta penyimpangan-penyimpangan terhadap
segala hal. Kadang manusia tidak menyadari bahwa Yang Maha Kuasa memberikan
sesuatu dengan ukuran yang telah ditentukan dengan perhitungan yang begitu
sempurna.
Allah SWT menciptakan segala sesuatunya penuh keseimbangan. Alam semesta
yang mencakup langit dan bumi serta segala apa yang menghiasi di dalamnya
menempati posisi yang tepat sesuai ukurannya. Begitu juga rezeki yang di anugrahkan
tentunya diatur dengan porsi-porsi tertentu. Seandainya saja manusia tidak
mengingkarinya, maka kesempurnaan kehidupan akan bisa dirasakan. Dalam surah Az
Zuhruf (QS 43:32) Allah berfirman :
“Apakah mereka yang membagi-bagi Rahmat
Tuhan-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam
kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang
lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan (bantuan dari) sebagian
yang lain. Dan Rahmat Tuhan-mu lebih baik
dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zuhruf, QS 43:32)
Dunia kemanusiaan saat ini berada
pada tatanan kehidupan modern dengan teknologi yang serba canggih. Hampir semua
pekerjaan dilakukan oleh mesin hasil perkembangan teknologi. Berbagai ilmu pengetahuan
dengan segala rumusannya yang mengarah kepada perhitungan duniawi nyaris tidak
diragukan lagi ketepatannya. Penelitian dan analisa terhadap upaya pengembangan
ilmu terus dilakukan manusia, bahkan mungkin tidak akan pernah berakhir. Alhasil
manusia meraih kemudahan-kemudahan dalam melakukan segala sesuatunya demi
kepentingan duniawi. Namun semakin maju peradaban manusia, semakin banyak yang
menyimpang dari ketentuan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin memacu
waktu untuk menjadi yang terbaik tanpa dibarengi oleh pemahaman spiritual. Sehingga
penyelewengan akidah terjadi dimana-mana dan konsekwensinya porsi kepentingan
umum bergeser menjadi kepentingan pribadi. Bisa dibenarkan apa yang dikatakan
oleh filosof Spanyol Jose Ortega Y.Gosset bahwa dunia modern adalah dunia biadab.
Ada sebuah kata mutiara : God doesn’t ask for you to be the best, only
to do your best. Sesungguhnya Tuhan tidak meminta seseorang untuk menjadi
yang terbaik, akan tetapi untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Pepatah yang baik, tentunya untuk
memotifasi perilaku kehidupan seseorang agar menjadi yang terbaik. Melakukan
sesuatu dengan sebaik-baiknya dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan
menghasilkan keseimbangan di dalam
mempresentasikan hak dan kewajiban. Dalam kenyataannya, perilaku manusia selalu
menonjolkan yang hak ketimbang yang wajib, hingga hukum yang berlakupun lebih
kepada mementingkan hak dan tidak menghiraukan kewajiban. Kehidupan manusia
lebih didominasi oleh nafsu, sehingga akhirnya merusak tatanan kehidupan yang
hakiki yakni kehidupan sesuai porsi yang diberikan Allah SWT. Dampak yang ditimbulkan
dari keadaan seperti tiu adalah adanya kesulitan-kesulitan dalam segala bidang,
ketakutan, kelaparan dan penderitaan pada sebagian masyarakat yang seolah tiada
berakhir. Itulah barangkali yang dikatakan krisis ekonomi. Allah SWT berfirman
:
”Dan Allah
telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
(penduduknya) mengingkari Nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah rasakan kepada
mereka kelaparan dan ketakutan lantaran apa-apa yang mereka kerjakan itu.” (An-Nahl, QS 16:112).
Adanya akibat tentunya dari adanya
sebab. Krisis ekonomi hanyalah sebuah akibat dari perilaku kehidupan manusia
yang selalu memanjakan nafsu dan semakin menjauhkan dari mensyukuri nikmat yang
dianugerahkan Allah SWT. Sebutan krisis ekonomi tidak lebih dari upaya
mengkambing hitamkan atas kegagalan dalam mempresentasikan ilmu yang dimiliki.
Pemanfaatan ilmu yang tidak disinergikan dengan nilai-nilai ketuhanan bukan
saja akan berpengaruh buruk kepada kehidupan sosial, akan tetapi berpengaruh
juga kepada nilai amal perbuatan yang harus diperpertanggung jawabkan di
hadapan Allah SWT. Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
”Barang
siapa yang mempelajari ilmu pengetahuan yang seharusnya ditujukan hanya untuk
mencari ridha Allah ’Azza Wa Jalla, kemudian ia tidak mempelajarinya untuk
mencari ridha Allah bahkan hanya untuk mendapatkan kedudukan / kekayaan dunia,
maka ia tidak akan mendapatkan baunya sorga nanti pada hari Qiamat.” (Riwayat Abu Daud).
Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa
dunia modern penuh kesesatan. Moral manusia dipertaruhkan hanya untuk mendapatkan
predikat yang terbaik dari segi status sosial. Nilai-nilai agama yang
terkandung dalam Al-Qur’an seolah tidak lagi menjadi pedoman dalam setiap
melakukan perbuatan, sehingga akalpun dalam pemanfaatannya berubah menjadi
akal-akalan. Padahal Allah ’Azza Wa Jalla memerintahkan kepada manusia agar
mempelajari Al-Qur’an sampai benar-benar paham supaya dapat memberi peringatan
kepada orang-orang yang mempunyai akal, sebagaimana firman-NYA :
”Ini adalah
sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan (mempelajari) ayat-ayatnya dan supaya
mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai akal.” (Shad, QS 38:29).
Mengutip analisis filosofisnya
Schumacher yang ditulis oleh Drs. H. Syahminan Zaini dalam buku khutbahnya, bahwa
atas analisa yang dilakukannya terhadap sebab terjadinya krisis ekonomi di
dunia, maka kesimpulannya : ”Dunia kemanusiaan tidak pernah mengalami krisis
ekonomi, karena setiap krisis pada hakikatnya merupakan krisis moral.”
Seperti itulah barangkali adanya, dan mari kita lebih menyadari serta
instrospeksi diri atas segala apa yang telah kita lakukan.
****************
Casino Site - Lucky Club
BalasHapusCheck out Lucky Club's casino site and enjoy a luckyclub.live great experience. The casino has been around for over 25 years, and you'll be spoilt for choice when it comes to slots and