Sabtu, 10 Desember 2011

Sesungguhnya Tidak Ada Krisis Ekonomi



Oleh : Zamid al Zihar

   Sudah menjadi sifat manusia kalau selalu tidak merasa puas terhadap sesuatu yang didapatkannya. Mengejar apa yang diinginkan seolah menjadi suatu kewajiban yang harus terealisir. Barangkali hal ini positif bila yang dimaksud menginginkan sebuah ilmu, akan tetapi lain halnya apabila yang dikejar sejumlah harta kekayaan. Berkeinginan lebih dari yang lain dan ingin dipandang terhormat adalah suatu keniscayaan yang senantiasa melekat dalam jiwa manusia. Itulah sebabnya, mengapa seringkali terjadi gejolak social, penyelewangan serta penyimpangan-penyimpangan terhadap segala hal. Kadang manusia tidak menyadari bahwa Yang Maha Kuasa memberikan sesuatu dengan ukuran yang telah ditentukan dengan perhitungan yang begitu sempurna.

   Allah SWT menciptakan segala sesuatunya penuh keseimbangan. Alam semesta yang mencakup langit dan bumi serta segala apa yang menghiasi di dalamnya menempati posisi yang tepat sesuai ukurannya. Begitu juga rezeki yang di anugrahkan tentunya diatur dengan porsi-porsi tertentu. Seandainya saja manusia tidak mengingkarinya, maka kesempurnaan kehidupan akan bisa dirasakan. Dalam surah Az Zuhruf (QS 43:32) Allah berfirman :

“Apakah mereka yang membagi-bagi Rahmat Tuhan-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan (bantuan dari) sebagian yang lain. Dan Rahmat Tuhan-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zuhruf, QS 43:32)

   Dunia kemanusiaan saat ini berada pada tatanan kehidupan modern dengan teknologi yang serba canggih. Hampir semua pekerjaan dilakukan oleh mesin hasil perkembangan teknologi. Berbagai ilmu pengetahuan dengan segala rumusannya yang mengarah kepada perhitungan duniawi nyaris tidak diragukan lagi ketepatannya. Penelitian dan analisa terhadap upaya pengembangan ilmu terus dilakukan manusia, bahkan mungkin tidak akan pernah berakhir. Alhasil manusia meraih kemudahan-kemudahan dalam melakukan segala sesuatunya demi kepentingan duniawi. Namun semakin maju peradaban manusia, semakin banyak yang menyimpang dari ketentuan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin memacu waktu untuk menjadi yang terbaik tanpa dibarengi oleh pemahaman spiritual. Sehingga penyelewengan akidah terjadi dimana-mana dan konsekwensinya porsi kepentingan umum bergeser menjadi kepentingan pribadi. Bisa dibenarkan apa yang dikatakan oleh filosof Spanyol Jose Ortega Y.Gosset bahwa dunia modern adalah dunia biadab.

   Ada sebuah kata mutiara : God doesn’t ask for you to be the best, only to do your best. Sesungguhnya Tuhan tidak meminta seseorang untuk menjadi yang terbaik, akan tetapi untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Pepatah yang baik, tentunya untuk memotifasi perilaku kehidupan seseorang agar menjadi yang terbaik. Melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya dapat dimaknai sebagai sesuatu yang akan menghasilkan  keseimbangan di dalam mempresentasikan hak dan kewajiban. Dalam kenyataannya, perilaku manusia selalu menonjolkan yang hak ketimbang yang wajib, hingga hukum yang berlakupun lebih kepada mementingkan hak dan tidak menghiraukan kewajiban. Kehidupan manusia lebih didominasi oleh nafsu, sehingga akhirnya merusak tatanan kehidupan yang hakiki yakni kehidupan sesuai porsi yang diberikan Allah SWT. Dampak yang ditimbulkan dari keadaan seperti tiu adalah adanya kesulitan-kesulitan dalam segala bidang, ketakutan, kelaparan dan penderitaan pada sebagian masyarakat yang seolah tiada berakhir. Itulah barangkali yang dikatakan krisis ekonomi. Allah SWT berfirman :

”Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari Nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah rasakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan lantaran apa-apa yang mereka kerjakan itu.” (An-Nahl, QS 16:112).

   Adanya akibat tentunya dari adanya sebab. Krisis ekonomi hanyalah sebuah akibat dari perilaku kehidupan manusia yang selalu memanjakan nafsu dan semakin menjauhkan dari mensyukuri nikmat yang dianugerahkan Allah SWT. Sebutan krisis ekonomi tidak lebih dari upaya mengkambing hitamkan atas kegagalan dalam mempresentasikan ilmu yang dimiliki. Pemanfaatan ilmu yang tidak disinergikan dengan nilai-nilai ketuhanan bukan saja akan berpengaruh buruk kepada kehidupan sosial, akan tetapi berpengaruh juga kepada nilai amal perbuatan yang harus diperpertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Barang siapa yang mempelajari ilmu pengetahuan yang seharusnya ditujukan hanya untuk mencari ridha Allah ’Azza Wa Jalla, kemudian ia tidak mempelajarinya untuk mencari ridha Allah bahkan hanya untuk mendapatkan kedudukan / kekayaan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya sorga nanti pada hari Qiamat.” (Riwayat Abu Daud).

   Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa dunia modern penuh kesesatan. Moral manusia dipertaruhkan hanya untuk mendapatkan predikat yang terbaik dari segi status sosial. Nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an seolah tidak lagi menjadi pedoman dalam setiap melakukan perbuatan, sehingga akalpun dalam pemanfaatannya berubah menjadi akal-akalan. Padahal Allah ’Azza Wa Jalla memerintahkan kepada manusia agar mempelajari Al-Qur’an sampai benar-benar paham supaya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang mempunyai akal, sebagaimana firman-NYA :

”Ini adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mempelajari) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai akal.” (Shad, QS 38:29).

   Mengutip analisis filosofisnya Schumacher yang ditulis oleh Drs. H. Syahminan Zaini dalam buku khutbahnya, bahwa atas analisa yang dilakukannya terhadap sebab terjadinya krisis ekonomi di dunia, maka kesimpulannya : ”Dunia kemanusiaan tidak pernah mengalami krisis ekonomi, karena setiap krisis pada hakikatnya merupakan krisis moral.”
Seperti itulah barangkali adanya, dan mari kita lebih menyadari serta instrospeksi diri atas segala apa yang telah kita lakukan.  

****************

1 komentar:

  1. Casino Site - Lucky Club
    Check out Lucky Club's casino site and enjoy a luckyclub.live great experience. The casino has been around for over 25 years, and you'll be spoilt for choice when it comes to slots and

    BalasHapus