Jumat, 07 Desember 2012

CATATAN HARIAN ANATA


CERPEN  (Buah Inspirasi : Jingga Antartika)
"Kehidupan adalah skenario Tuhan dengan segala ketentuannya.
Jika saja kita mau memahami maknanya serta menjalaninya dengan tulus, ikhlas dan tawakal tanpa melepaskan ketentuan-NYA, maka segala sesuatunya dalam kehidupan ini akan bisa dilalui dengan terasa mudah dan ringan." 

"Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki.
Jika saja kita mau menerimanya dengan sepenuh hati, maka segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini akan bisa dirasakan sebagai sesuatu kebaikan, bahkan tidak mustahil hadirnya sebuah keputusan Tuhan di luar jangkauan nalar serta kekuatan normal kita."

          Seperti biasanya sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi, aku bersama teman-teman sekelasku menghabiskan waktu dengan ngobrol dan bercanda. Ada yang hanya duduk-duduk sambil membenahi buku dibangku ruang kelas, ada yang berdiri di serambi pelataran kelas, bahkan ada juga seperti kelompok kami yang duduk-duduk di taman sekolah. Belum genap  dua bulan kami menjadi pelajar kelas satu di SMP itu, sehingga bisa dimaklumi jika di antara kami terlihat seperti ber-geng, karena memang baru beberapa orang saja yang saling mengenal lebih dekat itupun karena satu group ketika kami menjalani MOS masuk SMP.
          Canda dan tawa sebagai ekspresi dari suasana gaul kami mewarnai pagi yang cerah. Udara yang segar berbaur hangatnya sinar mentari membias di antara keceriaan kami. Arsya, Rima, Sinta, Dewi dan Fitri, mereka di antara teman-teman yang saat itu ada bergabung bersamaku. “Tasya..!” tiba-tiba terdengar seseorang memanggilku seiring bel masuk berbunyi, lalu aku menengok ke arah suara itu.
          “Hai, Anata kamu baru datang ya.” Tukasku seraya menghampirinya.
           “Ya, aku terlambat, papaku gak bisa nganter, motornya mogok.” Kata Anata yang biasanya datang lebih awal dari kami.
          “Pas, tidak terlambat, ayo kita masuk.” Ajakku seraya menggandengnya dan membantu memapah langkahnya ke arah teman-teman lainnya yang antri masuk ruang kelas.  
          Anata teman baruku di SMP juga teman sebangkuku, seorang gadis sebayaku yang memiliki keadaan fisik tidak sempurna. Ia berjalan dibantu sebilah tongkat, karena tidak memiliki kaki kanan sebatas pangkal betis. Namun cacat fisik yang dideritanya sejak lahir sepertinya bukanlah kendala baginya untuk melakukan segala sesuatunya baik dalam kegiatan hari-hari, belajar di sekolah maupun dalam pergaulan. Di sekolah, Anata menunjukan sebagai seorang pelajar yang berpotensi. Ia merupakan bintangnya pelajar, karena hampir semua mata pelajaran bisa diikutinya dengan tanpa kesulitan. Aku banyak belajar dari dia, bahkan acapkali aku datang ke rumahnya hanya untuk minta dibimbing dalam mengerjakan soal-soal pelajaran yang merupakan pekerjaan rumah dari guru.
          Jam pelajaran pertama hari itu matematika. Di celah mengajarnya, Bu Ningrum menulis sebaris soal pada papan tulis, lalu menawarkannya kepada para murid untuk mengangkat tangan bagi yang bisa mengerjakannya. Semuanya terdiam, sebagian tatapannya ada yang tertuju kepada tulisan soal tersebut, sebagian lainnya ada yang tertunduk sambil membuka-buka buku pelajaran. Anata terlihat melirik ke arah teman-temannya, ke sebelah kiri, kanan, depan dan belakang, kemudian melirik langsung kepadaku seraya berbisik.
          “Kamu bisa.”  Tanyanya kepadaku.
          “Aku lupa jalannya..” jawabku sambil menggelengkan kepala. Lalu sesaat itu Anata mengangkat tangannya sebagai tanda kesiapan untuk mengerjakannya.
          “Ada yang lainnya?, Coba jangan selalu Anata.” Pungkas Bu Guru Ningrum yang selain guru matematika juga wali kelas kami. Beliau merespon kesiapan Anata seraya melemparkan tatapannya ke arah murid-murid lainnya serta berharap ada yang bisa mengerjakannya, karena Anata sudah terbiasa dan hasilnya selalu benar. Aku memberanikan diri angkat tangan meskipun jujur agak ragu untuk bisa mengerjakannya, agak sedikit ingat caranya dan banyak lupanya. Benar, setelah aku berusaha mengerjakannya ternyata hasilnya salah. Ujung-ujungnya Anata juga yang menyelesaikannya. Itulah Anata seorang yang hebat dalam pelajaran. Kami terkagum dan hanya bisa terkagum serta hanya terbersit keinginan untuk bisa seperti Anata. “Itukah kelebihan yang Tuhan berikan kepada Anata disamping kekurangannya?” Rekaku dalam hati.
 
          Waktu bergulir, kedekatanku dengan Anata semakin erat. Aku sangat menyayanginya, bukan saja karena dia terbilang seorang yang pandai dan menonjol dalam pelajaran di sekolah, atau bukan juga karena dia seorang yang memiliki kekurangan fisik,  akan tetapi lebih dari itu. Entah apa, yang pasti aku banyak belajar dari dia, dalam menyikapi kehidupan, menyikapi segala sesuatu yang dihadapi, terlebih dalam menyikapi pelajaran-pelajaran di sekolah. Dalam kondisi keterbatasan fisik, Anata selalu memperlihatkan semangatnya, hari-harinya seolah menjadi miliknya yang terpola dalam sebuah prinsip. Itulah yang aku suka, meskipun sulit mengikutinya, tetapi terpacu semangatku untuk selalu berusaha.   
          Separuh perjalanan waktu mengikuti paket pelajaran kelas satu di sekolah terlalui. Tiba saatnya para murid dihadapkan kepada ujian semester pertama. Hari-hari ujian berjalan dengan baik. Di hari terakhir, pada saat para murid tengah mengerjakan soal-soal ujian, kejadian buruk yang datangnya tidak terduga melanda kami. Percikan api dari korslet kabel listrik berubah seketika menjadi api yang membakar dahsyat pintu dan atap ruang kelas. Semuanya terhenyak panik, semuanya spontan berteriak. Pak Deni Guru pengawas ujian berjuang dengan gigih melindungi dan mengamankan kami ke tempat yang longgar dari jilatan api. Dalam keadaan ketakutan aku teringat Anata, segera aku menghampirinya lalu dengan teman-teman lainnya berusaha membantunya naik dan mendorongnya lewat jendela yang kacanya sudah dipecahkan oleh pak Deni. Berhasil, namun seketika Jendela itupun mulai terjilat api.  Lalu melalui jendela lain aku beserta teman-teman lainnya satu persatu berusaha dengan cepat meloncat keluar. Rasa sakit dan panasnya udara api kami abaikan, yang terpikir pada saat itu kami harus menyelamatkan diri dan harus bisa menerjang keluar.
           Sesaat setelah kami berhasil keluar dari ruang kelas yang terjebak api itu, suara sirene terdengar menggaung. Dengan cepat pemadam kebakaran menyemprotkan airnya ke arah api yang ternyata membakar hampir tiga ruang kelas belajar. Aku bergegas mencari Anata di tempat dia tadi kudorong keluar. Anata tidak ada di situ, yang ada hanya sebuah buku miliknya yang tertinggal, itupun nyaris tersambar api. Aku meraih buku itu, lalu aku berlari dan berusaha mencarinya.
           “Anata!..Anata!..,kamu dimana!” Teriakku. Berulangkali aku memanggilnya, namun Anata tetap tidak kutemukan, aku tidak tahu dimana dan bagaimana keberadaan dia. Di antara hiruk pikuk para guru dan semua murid-murid termasuk kakak kelas yang sibuk membantu menyelamatkan teman-teman yang terluka, mataku menatap seseorang yang digotong ke arah ambulance yang sudah ada di pintu gerbang sekolah. Aku berlari menghampirinya, ternyata pak Deni mengalami luka bakar begitu parah. Dengan suara gemetar aku bertanya kepada pak Kusnadi guru olah raga yang ikut menggotong pak Deni.
          “Dimana Anata pak?”
          “Tasya, segera kamu ke UKS, obati luka di tangan dan kakimu itu.” Tukas pak Kusnadi.
          “Iya ya, tapi Anata dimana pak?
           “Anata sudah duluan dibawa ke rumah sakit…” Jawabnya sambil bergegas ikut masuk ke dalam ambulance itu yang kemudian segera melaju. Tidak sempat lagi kutanyakan apa yang terjadi dengan Anata. Aku hanya terdiam, lalu terduduk lemas, tak terasa air mataku mengalir dan menetes jatuh di bajuku yang warnanya berubah kusam. “Anata, aku tidak tahu harus bagaimana, aku mengkhawatirkan kamu, pastinya aku menyayangimu.” Keluhku dalam hati sambil tak mampu lagi menahan tangis.

          Untuk beberapa hari kami diliburkan. Dari akibat kejadian itu tidak ada ujian ulangan, entah pertimbangan apa, atau mungkin karena hanya satu mata pelajaran sehingga diberikan dispensasi kebijaksanaan nilai.  Sejak itu sama sekali aku tidak mendapatkan kabar dari Anata. Pernah aku datang ke rumahnya, namun tidak ada orang di rumahnya dan menurut tetangganya oleh kedua orang tuanya Anata dibawa ke rumah sakit luar kota. Entah dimana tidak ada yang tahu. Jujur aku merasa kehilangan, hanya keceriaannya saja yang selalu kubayangkan. Sejenak aku teringat bukunya yang ketinggalan, lalu kubuka dan ternyata bukan buku pelajaran. Sebuah buku tulis yang isinya penuh catatan harian yang menggambarkan keberadaan kehidupannya. Kemudian kubaca beberapa kalimat dalam tulisannya :

 “Kehidupan adalah skenario Tuhan dengan segala ketentuannya. Jika saja kita mau memahami maknanya serta menjalaninya dengan tulus, ikhlas dan tawakal tanpa melepaskan ketentuan-NYA, maka segala sesuatunya dalam kehidupan ini akan bisa dilalui dengan terasa mudah dan ringan. Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki. Jika saja kita mau menerimanya dengan sepenuh hati, maka segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini akan bisa dirasakan sebagai sesuatu kebaikan, bahkan tidak mustahil hadirnya sebuah keputusan Tuhan di luar jangkauan nalar serta kekuatan normal kita.”

Hati ini begitu tersentuh setelah membaca tulisan itu. Dan Itu pulalah barangkali yang menjadi prinsip dalam hidupnya, sehingga tidak ada kesempatan untuk menyerah. “Anata, aku berdoa untuk kamu, berharap tidak terjadi apa-apa denganmu.” Desahku dalam hati.

          Saatnya pembagian raport, seperti biasanya hasil perkembangan belajar para murid diterimakan kepada para orang tua atau wali murid. Anata tidak hadir begitu juga orang tuanya. Sebelum raport dibagikan, Pak Deni dengan balutan kain perban di pangkal kedua tangannya serta di sebagian kepalanya tampil di lapangan halaman sekolah mengumumkan sederet nama yang berprestasi. Di antaramya namaku disebutkan sebagai juara satu di kelasku, sementara Anata meraih prestasi gemilang dengan menyandang juara umum di sekolah. Satu sisi aku merasa gembira meskipun jujur rasanya belum pantas menyandang predikat juara, namun sisi lain aku merasa sedih sebab Anata tidak ada bersama kami.  
          Pembagian raport selesai, mamaku pulang duluan, sementara aku sengaja bareng teman-temanku. Untuk beberapa saat kami duduk-duduk di halaman kelas. Dibalik keceriaanku bersama teman-teman, Anata tidak lepas dari bayanganku. Terkadang aku terdiam, coleteh Anata yang selama ini kental di kupingku sepertinya  sulit untuk lari dari pikiran.
          “Tasya, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Anata.” Kata Fitri dengan tiba-tiba dan sepertinya dia tahu apa yang ada dalam pikiranku.
          “Ya, aku harap begitu, yang menjadi masalah sampai saat ini aku tidak mengetahui kabarnya.” Jawabku dengan nada tertahan.
          “Semua dari kami tidak ada yang tahu, bahkan bu Ningrumpun jika ditanya selalu bilang Anata dalam keadaan baik, memang itu yang kita harapkan, mudah-mudahan saja demikian.” Rima ikut menyambung pembicaraan, nadanya meyakinkan kepadaku kalau tidak terjadi sesuatu yang serius terhadap Anata.
           “Ya sudah, yuk kita pulang, kita berdoa saja semoga Anata cepat sembuh dan bisa bersama kita lagi.” Ajak Fitri seraya bangkit dari duduknya dan menarik tanganku untuk berdiri.
          Lalu kami bersiap-siap untuk pulang, namun belum sempat kaki melangkah terlihat seseorang keluar dari ruang kepala sekolah dengan tangan kirinya digendong kain, dan kepalanya terbalut kasa perban menutupi sebagian rambutnya. Sejenak mataku terpaut focus tanpa kedip, bibirku membisu kelu serta kakiku gemetar dan seakan terpahat dalam injakan. Sadar yang kulihat adalah temanku yang selama ini kukhawatirkan, dengan tanpa memperdulikan lagi sekelilingku, aku berteriak sekencang-kencangnya.  “Anataaa..!” Kemudian aku berlari ke arahnya diikuti teman-temanku seraya langsung kupeluknya erat-erat. Kulepaskan tangisku dengan penuh keharuan, air mataku mengalir deras membasahi pundaknya. Begitu juga Anata, tangisnya tidak terbendung ketika tahu dipelukannya adalah aku yang setiap saat selalu bersamanya. Rima, fitri, Arsya, Dewi, Sinta serta teman-teman lainnyapun terharu dan meneteskan air mata sembari bergantian memeluk kami.
          “Teman, aku merindukanmu, aku sangat mengkhawatirkanmu, kamu kemana selama ini.” Desahku tersendat berbaur tangisan yang sulit kuhentikan.
          “Entahlah sahabatku, sebuah reruntuhan kayu padat dan panas pada saat kejadian itu membentur hebat kepalaku dan membuatku tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan kata papa, dokter bilang benturan yang menyebabkan pendarahan serius di selaput otak belakang akan sulit diselamatkan, sekalipun bisa sangat meragukan untuk normal kembali. Keputusannya harus dioperasi yang memakan biaya tidak sedikit, sementara orang tuaku tidak punya uang dan hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan.” Jelas Tasya dengan suara bergetar lirih.
          “Kamu sehat sekarang kan, aku sangat bersyukur.”
          “Seperti yang kamu lihat, aku tidak apa-apa.” Kata Anata sambil tangannya melepaskan pelukanku dan menatap ke arah mataku. Lalu kami saling menatap disaksikan oleh teman-temanku lainnya.
           “Ya aku percaya, yang pasti aku senang kamu berada lagi di tengah kami.” Kataku sambil mengingat-ingat kembali tulisan Anata yang sempat kubaca dalam buku hariannya yang tertinggal.
          Sambil menggandeng Anata, aku diiringi teman-temanku berjalan pulang. Dibelakangku orang tua Anata terlihat tersenyum bahagia. Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki. Itulah tulisan tangan yang tertera tebal di buku hariannya. Dan mungkin itu pulalah yang dijadikan prinsip Anata dalam menjalani kehidupannya, sehingga apa yang dialaminya dianggapnya sebagai sebuah kebaikan yang datangnya dari Tuhan. Tidak menutup kemungkinan, kelapangan dan kepasrahan Anata akan ketentuan Tuhan merupakan tarikan energi yang menghadirkan cahaya ilahi untuk sebuah kekuatan dalam meghadapi segala hal. Bisa jadi kekuatan itu menuntunnya ke arah sesuatu yang menjadikannya mampu bertahan bahkan bangkit dari kesulitan. Akan selalu kuingat tulisan itu, tulisan tangan Anata yang sangat berarti dalam kehidupan ini. Sebuah pelajaran yang teramat berharga, dan aku akan selalu berusaha memahami dan memaknainya. (Zamid al Zihar : Menyunting dari tulisan asli Jingga Antartika, Pelajar Kls VIII  SMPN Mangunreja, Tasikmalaya).

4 komentar:

  1. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus
  2. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus
  3. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus
  4. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus