CERPEN (Buah Inspirasi : Jingga
Antartika)
"Kehidupan
adalah skenario Tuhan dengan segala ketentuannya.
Jika saja kita mau memahami maknanya serta menjalaninya
dengan tulus, ikhlas dan tawakal tanpa melepaskan ketentuan-NYA, maka segala
sesuatunya dalam kehidupan ini akan bisa dilalui dengan terasa mudah dan
ringan."
"Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki.
"Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki.
Jika saja kita mau menerimanya dengan sepenuh hati, maka
segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini akan bisa dirasakan sebagai
sesuatu kebaikan, bahkan tidak mustahil hadirnya sebuah keputusan Tuhan di luar
jangkauan nalar serta kekuatan normal kita."
Seperti biasanya sebelum
bel tanda masuk kelas berbunyi, aku bersama teman-teman sekelasku menghabiskan
waktu dengan ngobrol dan bercanda. Ada yang hanya duduk-duduk sambil membenahi
buku dibangku ruang kelas, ada yang berdiri di serambi pelataran kelas, bahkan
ada juga seperti kelompok kami yang duduk-duduk di taman sekolah. Belum genap dua bulan kami menjadi pelajar kelas satu di SMP
itu, sehingga bisa dimaklumi jika di antara kami terlihat seperti ber-geng,
karena memang baru beberapa orang saja yang saling mengenal lebih dekat itupun
karena satu group ketika kami menjalani MOS masuk SMP.
Canda dan tawa sebagai ekspresi dari
suasana gaul kami mewarnai pagi yang cerah. Udara yang segar berbaur hangatnya sinar
mentari membias di antara keceriaan kami. Arsya, Rima, Sinta, Dewi dan Fitri,
mereka di antara teman-teman yang saat itu ada bergabung bersamaku. “Tasya..!”
tiba-tiba terdengar seseorang memanggilku seiring bel masuk berbunyi, lalu aku
menengok ke arah suara itu.
“Hai, Anata kamu baru
datang ya.” Tukasku seraya menghampirinya.
“Ya,
aku terlambat, papaku gak bisa nganter, motornya mogok.” Kata Anata yang
biasanya datang lebih awal dari kami.
“Pas, tidak terlambat,
ayo kita masuk.” Ajakku seraya menggandengnya dan membantu memapah langkahnya
ke arah teman-teman lainnya yang antri masuk ruang kelas.
Anata teman baruku di
SMP juga teman sebangkuku, seorang gadis sebayaku yang memiliki keadaan fisik
tidak sempurna. Ia berjalan dibantu sebilah tongkat, karena tidak memiliki kaki
kanan sebatas pangkal betis. Namun cacat fisik yang dideritanya sejak lahir
sepertinya bukanlah kendala baginya untuk melakukan segala sesuatunya baik
dalam kegiatan hari-hari, belajar di sekolah maupun dalam pergaulan. Di
sekolah, Anata menunjukan sebagai seorang pelajar yang berpotensi. Ia merupakan
bintangnya pelajar, karena hampir semua mata pelajaran bisa diikutinya dengan
tanpa kesulitan. Aku banyak belajar dari dia, bahkan acapkali aku datang ke
rumahnya hanya untuk minta dibimbing dalam mengerjakan soal-soal pelajaran yang
merupakan pekerjaan rumah dari guru.
Jam pelajaran pertama hari itu
matematika. Di celah mengajarnya, Bu Ningrum menulis sebaris soal pada papan
tulis, lalu menawarkannya kepada para murid untuk mengangkat tangan bagi yang
bisa mengerjakannya. Semuanya terdiam, sebagian tatapannya ada yang tertuju
kepada tulisan soal tersebut, sebagian lainnya ada yang tertunduk sambil
membuka-buka buku pelajaran. Anata terlihat melirik ke arah teman-temannya, ke
sebelah kiri, kanan, depan dan belakang, kemudian melirik langsung kepadaku
seraya berbisik.
“Kamu bisa.” Tanyanya kepadaku.
“Aku lupa jalannya..”
jawabku sambil menggelengkan kepala. Lalu sesaat itu Anata mengangkat tangannya
sebagai tanda kesiapan untuk mengerjakannya.
“Ada yang lainnya?, Coba
jangan selalu Anata.” Pungkas Bu Guru Ningrum yang selain guru matematika juga
wali kelas kami. Beliau merespon kesiapan Anata seraya melemparkan tatapannya
ke arah murid-murid lainnya serta berharap ada yang bisa mengerjakannya, karena
Anata sudah terbiasa dan hasilnya selalu benar. Aku memberanikan diri angkat
tangan meskipun jujur agak ragu untuk bisa mengerjakannya, agak sedikit ingat
caranya dan banyak lupanya. Benar, setelah aku berusaha mengerjakannya ternyata
hasilnya salah. Ujung-ujungnya Anata juga yang menyelesaikannya. Itulah Anata
seorang yang hebat dalam pelajaran. Kami terkagum dan hanya bisa terkagum serta
hanya terbersit keinginan untuk bisa seperti Anata. “Itukah kelebihan yang
Tuhan berikan kepada Anata disamping kekurangannya?” Rekaku dalam hati.
Waktu bergulir,
kedekatanku dengan Anata semakin erat. Aku sangat menyayanginya, bukan saja
karena dia terbilang seorang yang pandai dan menonjol dalam pelajaran di
sekolah, atau bukan juga karena dia seorang yang memiliki kekurangan
fisik, akan tetapi lebih dari itu. Entah
apa, yang pasti aku banyak belajar dari dia, dalam menyikapi kehidupan,
menyikapi segala sesuatu yang dihadapi, terlebih dalam menyikapi
pelajaran-pelajaran di sekolah. Dalam kondisi keterbatasan fisik, Anata selalu memperlihatkan
semangatnya, hari-harinya seolah menjadi miliknya yang terpola dalam sebuah
prinsip. Itulah yang aku suka, meskipun sulit mengikutinya, tetapi terpacu
semangatku untuk selalu berusaha.
Separuh perjalanan
waktu mengikuti paket pelajaran kelas satu di sekolah terlalui. Tiba saatnya para
murid dihadapkan kepada ujian semester pertama. Hari-hari ujian berjalan dengan
baik. Di hari terakhir, pada saat para murid tengah mengerjakan soal-soal ujian,
kejadian buruk yang datangnya tidak terduga melanda kami. Percikan api dari
korslet kabel listrik berubah seketika menjadi api yang membakar dahsyat pintu
dan atap ruang kelas. Semuanya terhenyak panik, semuanya spontan berteriak. Pak
Deni Guru pengawas ujian berjuang dengan gigih melindungi dan mengamankan kami
ke tempat yang longgar dari jilatan api. Dalam keadaan ketakutan aku teringat
Anata, segera aku menghampirinya lalu dengan teman-teman lainnya berusaha
membantunya naik dan mendorongnya lewat jendela yang kacanya sudah dipecahkan
oleh pak Deni. Berhasil, namun seketika Jendela itupun mulai terjilat api. Lalu melalui jendela lain aku beserta teman-teman
lainnya satu persatu berusaha dengan cepat meloncat keluar. Rasa sakit dan
panasnya udara api kami abaikan, yang terpikir pada saat itu kami harus menyelamatkan
diri dan harus bisa menerjang keluar.
Sesaat
setelah kami berhasil keluar dari ruang kelas yang terjebak api itu, suara
sirene terdengar menggaung. Dengan cepat pemadam kebakaran menyemprotkan airnya
ke arah api yang ternyata membakar hampir tiga ruang kelas belajar. Aku bergegas
mencari Anata di tempat dia tadi kudorong keluar. Anata tidak ada di situ, yang
ada hanya sebuah buku miliknya yang tertinggal, itupun nyaris tersambar api.
Aku meraih buku itu, lalu aku berlari dan berusaha mencarinya.
“Anata!..Anata!..,kamu dimana!” Teriakku.
Berulangkali aku memanggilnya, namun Anata tetap tidak kutemukan, aku tidak
tahu dimana dan bagaimana keberadaan dia. Di antara hiruk pikuk para guru dan
semua murid-murid termasuk kakak kelas yang sibuk membantu menyelamatkan teman-teman
yang terluka, mataku menatap seseorang yang digotong ke arah ambulance yang
sudah ada di pintu gerbang sekolah. Aku berlari menghampirinya, ternyata pak
Deni mengalami luka bakar begitu parah. Dengan suara gemetar aku bertanya
kepada pak Kusnadi guru olah raga yang ikut menggotong pak Deni.
“Dimana Anata pak?”
“Tasya, segera kamu ke
UKS, obati luka di tangan dan kakimu itu.” Tukas pak Kusnadi.
“Iya ya, tapi Anata
dimana pak?
“Anata
sudah duluan dibawa ke rumah sakit…” Jawabnya sambil bergegas ikut masuk ke
dalam ambulance itu yang kemudian segera melaju. Tidak sempat lagi kutanyakan
apa yang terjadi dengan Anata. Aku hanya terdiam, lalu terduduk lemas, tak
terasa air mataku mengalir dan menetes jatuh di bajuku yang warnanya berubah
kusam. “Anata, aku tidak tahu harus bagaimana, aku mengkhawatirkan kamu, pastinya
aku menyayangimu.” Keluhku dalam hati sambil tak mampu lagi menahan tangis.
Untuk beberapa hari kami
diliburkan. Dari akibat kejadian itu tidak ada ujian ulangan, entah
pertimbangan apa, atau mungkin karena hanya satu mata pelajaran sehingga
diberikan dispensasi kebijaksanaan nilai. Sejak itu sama sekali aku tidak mendapatkan
kabar dari Anata. Pernah aku datang ke rumahnya, namun tidak ada orang di
rumahnya dan menurut tetangganya oleh kedua orang tuanya Anata dibawa ke rumah
sakit luar kota. Entah dimana tidak ada yang tahu. Jujur aku merasa kehilangan,
hanya keceriaannya saja yang selalu kubayangkan. Sejenak aku teringat bukunya
yang ketinggalan, lalu kubuka dan ternyata bukan buku pelajaran. Sebuah buku
tulis yang isinya penuh catatan harian yang menggambarkan keberadaan
kehidupannya. Kemudian kubaca beberapa kalimat dalam tulisannya :
“Kehidupan
adalah skenario Tuhan dengan segala ketentuannya. Jika saja kita mau memahami
maknanya serta menjalaninya dengan tulus, ikhlas dan tawakal tanpa melepaskan
ketentuan-NYA, maka segala sesuatunya dalam kehidupan ini akan bisa dilalui
dengan terasa mudah dan ringan. Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki.
Jika saja kita mau menerimanya dengan sepenuh hati, maka segala sesuatu yang
terjadi dalam kehidupan ini akan bisa dirasakan sebagai sesuatu kebaikan,
bahkan tidak mustahil hadirnya sebuah keputusan Tuhan di luar jangkauan nalar
serta kekuatan normal kita.”
Hati ini begitu tersentuh setelah membaca tulisan itu. Dan Itu pulalah
barangkali yang menjadi prinsip dalam hidupnya, sehingga tidak ada kesempatan
untuk menyerah. “Anata, aku berdoa untuk kamu, berharap tidak terjadi apa-apa
denganmu.” Desahku dalam hati.
Saatnya pembagian
raport, seperti biasanya hasil perkembangan belajar para murid diterimakan
kepada para orang tua atau wali murid. Anata tidak hadir begitu juga orang
tuanya. Sebelum raport dibagikan, Pak Deni dengan balutan kain perban di
pangkal kedua tangannya serta di sebagian kepalanya tampil di lapangan halaman
sekolah mengumumkan sederet nama yang berprestasi. Di antaramya namaku
disebutkan sebagai juara satu di kelasku, sementara Anata meraih prestasi
gemilang dengan menyandang juara umum di sekolah. Satu sisi aku merasa gembira
meskipun jujur rasanya belum pantas menyandang predikat juara, namun sisi lain
aku merasa sedih sebab Anata tidak ada bersama kami.
Pembagian raport
selesai, mamaku pulang duluan, sementara aku sengaja bareng teman-temanku.
Untuk beberapa saat kami duduk-duduk di halaman kelas. Dibalik keceriaanku
bersama teman-teman, Anata tidak lepas dari bayanganku. Terkadang aku terdiam,
coleteh Anata yang selama ini kental di kupingku sepertinya sulit untuk lari dari pikiran.
“Tasya, semoga saja
tidak terjadi apa-apa dengan Anata.” Kata Fitri dengan tiba-tiba dan sepertinya
dia tahu apa yang ada dalam pikiranku.
“Ya, aku harap begitu,
yang menjadi masalah sampai saat ini aku tidak mengetahui kabarnya.” Jawabku
dengan nada tertahan.
“Semua dari kami tidak
ada yang tahu, bahkan bu Ningrumpun jika ditanya selalu bilang Anata dalam
keadaan baik, memang itu yang kita harapkan, mudah-mudahan saja demikian.” Rima
ikut menyambung pembicaraan, nadanya meyakinkan kepadaku kalau tidak terjadi
sesuatu yang serius terhadap Anata.
“Ya sudah, yuk kita pulang, kita berdoa saja
semoga Anata cepat sembuh dan bisa bersama kita lagi.” Ajak Fitri seraya
bangkit dari duduknya dan menarik tanganku untuk berdiri.
Lalu kami bersiap-siap
untuk pulang, namun belum sempat kaki melangkah terlihat seseorang keluar dari
ruang kepala sekolah dengan tangan kirinya digendong kain, dan kepalanya
terbalut kasa perban menutupi sebagian rambutnya. Sejenak mataku terpaut focus
tanpa kedip, bibirku membisu kelu serta kakiku gemetar dan seakan terpahat
dalam injakan. Sadar yang kulihat adalah temanku yang selama ini kukhawatirkan,
dengan tanpa memperdulikan lagi sekelilingku, aku berteriak sekencang-kencangnya. “Anataaa..!” Kemudian aku berlari ke arahnya
diikuti teman-temanku seraya langsung kupeluknya erat-erat. Kulepaskan tangisku
dengan penuh keharuan, air mataku mengalir deras membasahi pundaknya. Begitu
juga Anata, tangisnya tidak terbendung ketika tahu dipelukannya adalah aku yang
setiap saat selalu bersamanya. Rima, fitri, Arsya, Dewi, Sinta serta
teman-teman lainnyapun terharu dan meneteskan air mata sembari bergantian
memeluk kami.
“Teman, aku
merindukanmu, aku sangat mengkhawatirkanmu, kamu kemana selama ini.” Desahku
tersendat berbaur tangisan yang sulit kuhentikan.
“Entahlah sahabatku, sebuah
reruntuhan kayu padat dan panas pada saat kejadian itu membentur hebat kepalaku
dan membuatku tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan kata papa, dokter bilang
benturan yang menyebabkan pendarahan serius di selaput otak belakang akan sulit
diselamatkan, sekalipun bisa sangat meragukan untuk normal kembali. Keputusannya
harus dioperasi yang memakan biaya tidak sedikit, sementara orang tuaku tidak
punya uang dan hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan.” Jelas Tasya dengan
suara bergetar lirih.
“Kamu sehat sekarang
kan, aku sangat bersyukur.”
“Seperti yang kamu
lihat, aku tidak apa-apa.” Kata Anata sambil tangannya melepaskan pelukanku dan
menatap ke arah mataku. Lalu kami saling menatap disaksikan oleh teman-temanku
lainnya.
“Ya aku percaya, yang
pasti aku senang kamu berada lagi di tengah kami.” Kataku sambil
mengingat-ingat kembali tulisan Anata yang sempat kubaca dalam buku hariannya
yang tertinggal.
Sambil menggandeng
Anata, aku diiringi teman-temanku berjalan pulang. Dibelakangku orang tua Anata
terlihat tersenyum bahagia. Kehidupan adalah keajaiban yang kita miliki. Itulah
tulisan tangan yang tertera tebal di buku hariannya. Dan mungkin itu pulalah
yang dijadikan prinsip Anata dalam menjalani kehidupannya, sehingga apa yang
dialaminya dianggapnya sebagai sebuah kebaikan yang datangnya dari Tuhan. Tidak
menutup kemungkinan, kelapangan dan kepasrahan Anata akan ketentuan Tuhan
merupakan tarikan energi yang menghadirkan cahaya ilahi untuk sebuah kekuatan
dalam meghadapi segala hal. Bisa jadi kekuatan itu menuntunnya ke arah sesuatu
yang menjadikannya mampu bertahan bahkan bangkit dari kesulitan. Akan selalu
kuingat tulisan itu, tulisan tangan Anata yang sangat berarti dalam kehidupan
ini. Sebuah pelajaran yang teramat berharga, dan aku akan selalu berusaha
memahami dan memaknainya. (Zamid al Zihar : Menyunting dari tulisan asli Jingga
Antartika, Pelajar Kls VIII SMPN Mangunreja, Tasikmalaya).
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^