Selasa, 25 Oktober 2011

BENARKAH PEREMPUAN ADALAH RACUN ?


Oleh : Zamid al Zihar
  

   Dalam pandangan laki-laki normal, perempuan laksana air sejuk yang setiap saat bisa melepas kedahagiaan. Perempuan adalah pemandangan yang terindah dari yang terindah. Bahkan manakala laki-laki mengaguminya, terkadang mereka bisa terlena dan lupa dengan segalanya. Perempuan seumpama mutiara yang memancarkan sinar berkilau, bila dekat akan terpikat, bila renggang akan terkenang. Itulah perempuan, sosok mahkluk Tuhan yang diciptakan dengan segala pesonanya. Namun demikian, banyak orang yang mengatakan bahwa perempuan adalah racun, atau ada juga yang menyebutnya sebagai ular berbisa. Benarkah demikian? Sebelumnya mari kita tengok ke belakang, bagaimana keberadaan perempuan di masa lalu.

Perempuan pada masa pra peradaban islam.

   Jauh sebelum peradaban modern, perempuan dianggap sebagai sosok manusia lemah yang hina dan sama sekali tidak berguna. Keberadaan perempuan tidak lebih dari sampah yang kotor, sehingga perlakuan terhadap mereka jauh di luar batas-batas kemanusiaan. Bangsa Yahudi misalnya, menyebutnya perempuan itu dengan laknat dan haram bila disentuh, setiap perbuatan amoral yang dilakukan laki-laki selalu saja kesalahanya ditumpahkan kepada perempuan, karena perempuan dianggapnya sebagai penggoda dan pengumbar nafsu. Lebih biadab lagi, pada masa jahiliyah, para perempuan entah itu dewasa, anak-anak, bahkan bayipun diburu dan dibunuhnya. Bergeser kepada peradaban lebih maju, perempuan hanya dijadikan sebagai barang pemuas kebutuhan seks, sebagai budak nafsu yang diperjual belikan dan dipertaruhkan dalam berbagai bentuk perjudian, bahkan tidak perduli apakah perempuan itu istrinya sendiri atau bukan. Bangsa Yunani menganggap bahwa perempuan adalah bagian dari perbuatan setan, bahkan seorang filsuf Yunani, Socrates mengatakan :

“Keberadaan perempuan merupakan bibit sekaligus sumber krisis dan kehancuran dunia terbesar, karena perempuan serupa dengan pohon beracun yang kulit luarnya tampak indah, namun ketika burung-burung memakannya, maka ia akan mati dengan segera.”

Perempuan pada masa Islam

   Masuknya Islam mengantarkan ajaran yang mengubah pandangan terhadap eksistensi perempuan. Islam mengangkat harkat martabat perempuan, mengetengahkan keadilan dan persamaan antara perempuan dan laki-laki serta memenuhi hak-hak perempuan. Lebih sempurna lagi, Islam mengatur norma-norma akhlaki dari etika berperilaku, etika berpakaian, etika pergaulan hingga etika-etika bagaimana seharusnya perempuan bersikap kepada laki-laki dan begitu juga sebaliknya bagaimana seharusnya laki-laki memperlakukan perempuan dalam hubungannya sebagai suami istri. Dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, Allah SWT berfirman :

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (An-Nur, QS 24 : 30).

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…….’” (An-Nur, QS 24 : 31).

   Dalam hubungannya sebagai suami istri, Mu’awiyah bin Haidah ra ketika menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang kewajiban suami yang merupakan hak istri, beliau menjawab :

“Kamu harus memberinya makan bila kamu makan, kamu harus memberinya pakaian bila kamu memakai pakaian, kamu tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh berlaku kasar serta tidak boleh memboikotnya kecuali hanya dalam rumah saja.” (Riwayat Abu Daud).

Dijelaskan juga mengenai cara bersikap seorang laki-laki dalam menyampaikan pesan dan nasehat kepada istrinya. Rasulullah SAW bersabda :

“Berpesan-pesan baiklah kamu kepada istri, karena sesungguhnya orang wanita itu terbuat dari tulang rusuk dan bagian atas dari tulang itu bengkok. Kalau kamu luruskan secara paksa maka akan patahlah tulang itu dan kalau kamu biarkan maka akan bengkok terus. Oleh karenanya berpesan-pesan baiklah kepada istri.” (Riwayat Bukhari-Muslim).

    Laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga, seorang istripun tentunya harus memberikan pelayanan yang baik kepada suami serta mentaati apa yang dikehendakinya dan dinasehatkannya. Sebegitu harus patuhnya seorang istri terhadap suaminya, sehingga Rasulullah SAW bersabda :

“Seandainya saya boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya saya menyuruh seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” (Riwayat Bukhari-Muslim).

    Islam mengajarkan norma-norma berkehidupan kepada manusia tentunya agar langkah manusia tidak tersesat ke jalan yang tidak diridhai-Nya. Perempuan diberikan hak dan kewajiban, serta menempatkannya pada posisi dan kedudukan sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat, yang mana dalam kehidupannya di tengah-tengah kekuasaan laki-laki harus senantiasa dihormati. Dalam berkorelasi antara laki-laki dan perempuan dituntut harus saling menghargai serta saling menjunjung tinggi hak dan kewajibannya masing-masing. Itulah kesempurnaan ajaran islam yang khususnya bagi perempuan membawa angin segar dalam mengekspresikan haknya.

Perempuan pada masa sekarang

   Terlepas dari peradaban masyarakat Islam dengan segala ketentuannya, perempuan pada jaman modern saat ini sepertinya tidak sepenuhnya menunjukan adanya perubahan kedudukan. Sejarah pahit akan perlakuan terhadap perempuan seakan menjadi alasan perempuan untuk menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Di negara barat misalnya, kebebasan perempuan dalam berperilaku seolah sebuah legalitas keadaan yang menjadi lambang kebangkitan di mana nilai-nilai akhlak nyaris tidak disentuh. Kesucian dan kehormatan bukan lagi barang berharga, kebebasan pergaulan yang berlebihan telah menutup perasaan malu. Keadaan seperti ini berkembang hingga ke negara-negara timur, bahkan di Indonesia sendiripun tidak sedikit yang mencerminkan kehidupan barat.

    Di Indonesia, berkembangnya kebebasan pergaulan secara umum yang berseberangan dengan norma-norma agamis lebih dipengaruhi oleh gaya hidup modern. Gaya hidup modern bukan saja mempengaruhi kepada perempuan-perempuan yang memiliki status sosial, akan tetapi lebih parah lagi kepada perempuan-perempuan yang berkehidupan miskin. Perempuan dengan segala pesonanya mampu memikat laki-laki, sehingga akan dengan mudah mengorbankan kehormatannya demi memperoleh sarana untuk bisa merubah pola hidup. Indikasi ke arah itu adalah banyaknya perempuan yang terjerumus kepada pelacuran, baik dilakukan perempuan dewasa maupun di bawah umur. Ada juga yang karena kemiskinannya, perempuan mencoba memperbaiki nasib dengan cara menjadi pembantu rumah tangga baik di dalam negeri maupun di luar negeri (yang disebut oleh pemerintah sebagai pahlawan devisa), akan tetapi tidak sedikit juga yang pada kenyataannya terjerumus kepada sistim perbudakannya jahiliyah, di mana sering terjadinya penghinaan, penganiayaan, bahkan pelecehan seksual.

    Kembali kepada norma-norma agama, semua perilaku negatif manusia khususnya perempuan tentunya dilatar-belakangi oleh kurangnya pendidikan akhlak. Lantas siapa yang bertanggung jawab? Ibnu Umar ra menceritakan bahwasnnya Rasulullah SAW bersabda :

”Kamu sekalian adalah pengembala (pemimpin) dan kamu sekalian akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas seluruh anggota rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin, dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.” (Riwayat Bukhari-Muslim).

    Pemimpin adalah tonggak pemikul tanggung jawab dan otomatis merupakan cermin akan perilaku jamaahnya. Suami memimpin istri dan anak-anaknya, sementara istri memimpin anak-anaknya. Suami dan istri (orang tua) bertanggung jawab akan pendidikan akhlak anak-anaknya. Namun demikian, bertolak dari komunitas keluarga, maka jelas bahwa secara keseluruhan yang bertanggung jawab akan moralitas manusia khususnya para perempuan adalah laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga. Dengan demikian, apakah perempuan bisa dikatakan racun kehidupan? Dalam kenyataannya mungkin benar, akan tetapi kembali kepada siapa yang bertanggung jawab, maka laki-lakilah sesungguhnya yang meracuni.***

Senin, 24 Oktober 2011

SAKIT DAN PENAWARNYA DALAM ISLAM


Oleh : Zamid al Zihar

 
Sakit adalah perasaan yang tidak nyaman dalam diri kita. Sakit bisa terasa terhadap fisik, psikis ataupun social. Syariatnya sakit fisik bisa terjadi karena penyakit yang disebabkan pola makan tidak teratur, makanan yang tidak cocok ataupun karena ketidak seimbangan dalam pola hidup. Sakit psikis atau secara psikologik bisa terjadi karena adanya suatu permasalahan pada kondisi mental tidak siap menerima, misalnya seseorang yang baru terkena PHK atau karena hancurnya suatu usaha dan lain sebagainya. Sementara sakit social bisa timbul karena adanya penyakit hati seperti kecemburuan/iri, dengki, dendam, sombong dan lain sebagainya. Terkadang juga penyakit social bisa menimbulkan psikis terganggu ataupun bahkan fisik menjadi sakit, begitu juga sebaliknya. Hakikatnya semuanya penyakit yang diderita oleh kita adalah karena atas kehendak Yang Maha Kuasa. Sakit merupakan keputusan Allah, maka atas kasih sayang-Nya tidak ada suatu penyakitpun yang tidak ada obatnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

“Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Allah SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua.” (HR. Tirmidzi).

“Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim dan Ahmad).

   Seringkali kita mendengar bahwa karena sakit yang berlebihan dan sulit diobati menjadikan seseorang berputus asa, bahkan adakalanya karena tersiksa oleh penderitaannya menjadikannya mengambil jalan pintas. Padahal Islam dengan tegas melarang hal yang demikian sebagaimana Allah berfirman :

“Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar, QS 39 : 53).

   Sesungguhnya jika Allah memberikan sesuatu kepada kita baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan tentulah ada maksudnya. Pemahamannya, bisa jadi sesuatu yang menyenangkan merupakan kabar buruk bagi kita dan sebaliknya sesuatu yang menyedihkan atau menyakitkan adalah kabar baik. Oleh karena itu apabila kita menyikapinya dengan pemahaman spiritual (agama), maka seberat-beratnya penyakit yang kita derita adalah seringan-ringannya kita dapat menarik sebanyak-banyaknya pahala kebaikan. Artinya di kala kita lelah berusaha mengatasi suatu penyakit dengan syariat medis yang tidak kunjung ada kebaikan, maka  memasrahkan diri kepada Allah-lah adalah obatnya yang paling mujarab. 

   Pasrah dengan suatu keikhlasan akan menghadirkan ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa adalah segala-galanya yang dapat menjadikan kekuatan sempurna dalam menghadapi masalah apapun. Ketenangan jiwa mengandung kekuatan spiritual (kerohanian) yang dapat  membangkitkan rasa percaya diri (self confident) dan rasa optimis, di mana kedua hal tersebut sangat diperlukan dalam proses penyembuhan suatu penyakit, tentunya disamping pengobatan secara medis. Itulah barangkali sebabnya, mengapa Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) yang sebelumnya tahun 1947 memberikan batasan sehat hanya dari 3 (tiga) aspek saja yakni sehat dalam arti fisik, psikologik dan social, maka sejak tahun 1984 batasan tersebut berubah dengan tambahan aspek spiritual (kerohanian), sehingga pengertian sehat seutuhnya menjadi sehat fisik, psikologik, social dan spiritual (bio-psiko-sosio-spiritual). 

   Dalam ajaran Islam, bila dikaji secara mendalam tuntunan ke arah pengertian sehat seutuhnya banyak tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya :

“Katakanlah : Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar (penyembuh) bagi orang-orang yang beriman.” (Fushshilat, QS 41 : 44).

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr, QS 89 : 27-30).

   Dengan demikian, maka sebaik-baiknya obat penawar penderitaan  yang  juga bisa dikatakan sebagai pelengkap pengobatan secara medis adalah  memasrahkan diri kepada Allah SWT dengan senantiasa mengingat-Nya serta berdo’a memohon pertolongan-Nya. Tuntunan mengenai hal ini dijelaskan  dalam Al-Qur’an dan hadis : 

1.Hendaklan kita meningkatkan nilai keimanan sebagai pangkal kekuatan dengan meyakini bahwa penyakit yang kita hadapi adalah sebagai cobaan dan ujian keimanan dari Allah SWT,  sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : 

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan menumpuk pada dirinya (karena banyaknya) kecuali Allah hapuskan akan dosa-dosanya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

2. Hendaklah kita bersabar dalam menghadapinya serta tawakal menjalankan perintah-Nya, karena kesabaran dan tawakal dalam menerima cobaan merupakan kunci menuju ketenangan jiwa. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman : 

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah, QS 2 : 153).
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar, QS 39 : 10).

3. Adakalanya orang yang ditimpa suatu penyakit, ia berkeluh kesah dengan menunjukan ketidak sabarannya serta tidak jarang berburuk sangka kepada Allah. Oleh karena itu, agar memperoleh kesembuhan hendaklah tetap berbaik sangka kepada Allah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

“Aku senantiasa berada di samping hamba-Ku yang berbaik sangka dan Aku tetap bersamanya selama ia tetap ingat pada-Ku.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Andaipun karena suatu penyakit seseorang ditakdirkan untuk meninggal, maka hendaknya tetap berbaik sangka kepada Allah, karena kepada-Nya-lah kita semua kembali. Hal ini ditegaskan dalam sebuas Hadis Nabi :

“Janganlah ada seorangpun di antaramu yang meninggal, kecuali dalam keadaan berbaik sangka semata-mata hanya kepada Allah.” (HR.Muslim).

4.Hendaklah bertobat dan menyucikan diri dengan senantiasa memohon ampunan-Nya serta memperbanyak shadaqoh. Bertobat dan menyucikan diri adalah perbuatan mendekatkan diri kepada Allah yang sangat disukai oleh-Nya dan hal ini akan sangat berpengaruh kepada proses pengembalian kepercayaan diri. Sementara manfaat shadaqoh tidak hanya sebatas memberikan bantuan kepada yang diberi, melainkan bagi yang bershadaqah ada nilai penyembuhan. Tentang tobat dan menyucikan diri serta keharusan shadaqoh ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis nabi :

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah, QS 2 : 222).

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Tobat, QS 9 : 103).

“Bersihkanlah hartamu dengan membayar zakatnya, sembuhkanlah penyakit-penyakitmu dengan bersedekah dan hadapi ujianmu dengan do’a.” (HR.Tabrani).

5. Hendaklah senantiasa mengingat Allah (berdzikir), karena dengan berdzikir akan menyerap energy positif , di mana hati dan pikiran akan menjadi bersih yang tentunya secara psikologis sangat berpengaruh positif kepada ketenangan jiwa. Tentang hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi :

 “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, Zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan siang. Dia-lah yang member rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab, QS 33 : 41-43).

“Perumpamaan orang yang dzikir (ingat) kepada Tuhannya dengan orang yang tidak dzikir (ingat) kepada Tuhannya adalah bagaikan perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR.Bukhari).

Pengertian dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir seperti Al Asma’ul Husna (99 sifat Allah), akan tetapi juga meliputi segala bacaan dzikir baik dalam do’a, salat ataupun segala amalan kebaikan. 

   Kekuasaan Allah begitu luas, menentukan dan memutuskan sesuatu terjadi terhadap apa dan siapa yang dikehendaki-Nya. Bila sesuatu terjadi terhadap kehidupan kita, maka tak ada sesuatupun yang mampu melawannya selain hanya memohon pertolongan-Nya. Allah mendatangkan penyakit yang menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, maka  atas sebab-Nya-lah adanya kesembuhan. Sebagaimana dalam Al-Qur’an ditegaskan :

“Dan bila aku sakit Dia-lah yang menyembuhkan.” (Asy Syua’ara, QS 26 : 80).

Dengan demikian berdzikir dan berdo’a adalah obat yang paling mujarab dalam mengatasi segala penderitaan yang menimpa kita. ***
 

Minggu, 23 Oktober 2011

MENYELUSURI CAHAYA


Oleh : Zamid al Zihar
 
   Pada hakikatnya hidup dan matinya manusia serta segala apa yang dikerjakan dan diperbuatnya di dunia hanyalah semata untuk Allah SWT. Sebagaimana firman-NYA :

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”  (Al-An’am, QS 6:162)

   Alam dunia adalah alam fana. Kehidupan manusia di dunia adalah merupakan sebuah perjalanan menuju tempat yang ditentukan Allah SWT yakni alam baka (akhirat), dimana ketika manusia sampai di akhir perjalanan dan memasuki gerbang alam akhirat ditandai oleh kematian di dunia. Selama proses perjalanan manusia di dunia, Maha Suci Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi memberikan peraturan yang harus ditaati oleh manusia. Apabila manusia mentaati peraturannya, maka di akhir perjalanan nanti Allah SWT akan memberikan penghargaan atas ketaatannya dengan menempatkannya langsung di tempat terindah (surga). Sedangkan apabila yang dilakukan manusia adalah sebaliknya, maka atas keingkarannya Allah SWT akan memasukannya ke tempat terburuk (neraka) untuk terlebih dahulu diberikan hukuman yang sangat menyakitkan, bahkan juga ada yang divonis sebagai penghuni kekal.

   Sudah barang tentu kita semua berkeinginan agar kelak perjalanan hidup kita berakhir di surga. Namun untuk mencapainya tentunya juga harus mampu melewati jalan yang benar yaitu jalan lurus yang telah ditentukan oleh Allah SWT berikut rambu-rambunya, bahkan kita diperintahkan-Nya agar senantiasa menapaki jalan itu. Sebagaimana yang di firmankan-Nya :

”dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am, QS 6:153)

   Dimanakah arah jalan yang benar, yang akan mengantarkan kita ke tempat terindah yang penuh kenikmatan itu? Jalan yang lurus hanya bisa ditempuh apabila kita membawa cahaya. Dengan cahaya akan begitu jelas terlihat jalan yang benar terbentang dihadapan kita, begitu juga rambu-rambunya akan dengan jelas bisa dipahami, sehingga kita tidak akan pernah tersesat. Mari kita renungkan, seandainya di malam hari manakala kita tengah berada di dalam kamar, lalu tiba-tiba listrik mati sehingga keadaannya menjadi gelap gulita, tentunya pada saat itu yang ada dalam pikiran kita adalah mencari dan menemukan sumber cahaya sebagai penerangan. Kemudian kita berusaha mencari jalan ke luar dengan mencoba berjalan perlahan-lahan sambil tangan meraba-raba, meskipun terkadang kepala harus terbentur lemari dan kaki tersandung kursi.

   Begitu sulitnya berjalan tanpa cahaya, bahkan kita bisa tersesat ke arah yang tidak dikehendaki. Allah SWT tentunya tidak begitu saja membiarkan umat-Nya di dunia ini mencari sendiri jalan yang diridhai-Nya tanpa memberinya petunjuk untuk memperoleh cahaya, karena sesungguhnya Allah-lah sumber dan pencipta cahaya. Sebagaimana firman-Nya :

”Allah (pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia Kehendaki, dan Allah Memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur, QS 24:35)

   Allah SWT sebagai pencipta cahaya dan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Allah menciptakan cahaya yang mampu mencahayai, itulah Rasulullah SAW dan para nabi lainnya. Sebagaimana firman-Nya :

”Hai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan Izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.” (Al-Ahzab, QS 33:45-46).

   Allah SWT Yang memiliki cahaya di atas cahaya, dan sebagai sumber dari segala sumber cahaya menurunkan Ayat-ayatnya melalui Rasulullah SAW. Itulah Al-Quran yang mengandung sumber cahaya. Rasulullah SAW sebagai cahaya dan pembawa sumber cahaya. Dan siapa saja yang tunduk kepada tuntunannya serta mentaati petunjuk dalam Al-Qur’an sebagai sumber cahaya yang di bawanya, maka di situlah kita akan menemukan dan mendapatkan cahaya. Cahaya di atas cahaya, berlapis menghasilkan cahaya, meskipun Rasulullah SAW telah tiada, namun cahayanya tetap memancar dan mewarisi para ’alimin yakni para ulama yang dianugerahkan sebagai waliyullah. Anas bin Malik ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Bahwasannya perumpamaan ulama di muka bumi itu adalah bagaikan bintang-bintang yang menjadi petunjuk kegelapan baik di darat maupun di laut. Oleh karenanya apabila bintang-bintang itu redup hampir-hampir para pemakai petunjuk itu sesat.” (Riwayat Ahmad).

   Para ulama dan para salihin sebagai orang-orang terpilih, cahayanya memancar dan tidak mencahayai, namun tentunya bisa dijadikan petunjuk untuk memperoleh cahaya yang membimbing ke jalan yang benar. Semakin banyak kita mendekati para salihin dan menerima petunjuknya, maka semakin terang cahaya yang membimbing kita. Laksana bintang gemintang di malam hari, semakin banyak yang terlihat mengedipkan sinarnya, maka semakin terang alam di sekitarnya. Sudah barang tentu berbeda dengan Rasulullah SAW beserta para nabi lainnya, bagaikan rembulan di malam hari, cahayanya memancar dan mampu mencahayai seisi jagad raya. Begitu agungnya kekuatan pancaran cahaya Rasulullah SAW, sehingga dengan mengingat saja serta bersholawat kepadanya kita akan mendapatkan pahala. Sebagaimana dikatakan Abdurrahman bin Auf ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Sesungguhnya Jibril as. Telah berkata kepadaku : Ketahuilah, aku akan memberi kabar gembira kepadamu, sesungguhnya Allah ’Azza Wa Jalla berfirman kepadamu : Barang siapa membaca sholawat atasmu, Aku (Allah) membaca sholawat atas dia, dan barang siapa membaca (mengucapkan) salam kepadamu, maka Aku (Allah) mengucapkan salam kepadanya.” (Riwayat Ahmad)

   Ada juga sebagian para ’alimin yang berpendapat bahwa para rasul, para waliyullah dan para salihin adalah merupakan cahaya yang mampu mencahayai. Memang benar, seorang shaikh atau maha guru tidak diragukan lagi ilmu dan ketaatannya kepada Allah SWT, begitu ikhlas menjauhkan dari keduniaan dan khusyu menjalani kehidupan spiritual guna mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sehingga setiap perkataan dalam syiarnya mengandung kekuatan kebenaran. Itulah cahaya yang membias dari seorang waliyullah, semakin kita sering mendekatkan diri dengannya meskipun hanya dengan memaknai setiap perkataannya, maka safaatnya akan semakin terasa menciptakan cahaya yang mampu membimbing hati. Rasulullah SAW sebagai manusia luar biasa tentunya berbeda dengan umat-umat lainnya selain para nabi. Di hadapan Allah Yang Maha kuasa beliau memiliki keistimewaan tersendiri, sehingga dengan hanya mengingatnya saja kita akan mendapatkan pahala. Itulah cahaya yang mampu mencahayai.

   Lantas bagaimanakah sesungguhnya agar kita memperoleh cahaya guna mampu berjalan di jalan yang lurus dan benar? Dalam surah Asy-Syams (QS 91:8-10) Allah SWT berfirman :

”maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kepasikan dan jalan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Asy-Syam, QS 91:8-10}

Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kebaikan dan keburukan. Jiwa berpangkal di hati. Apabila hati kotor atau yang dinamakan terjangkit penyakit hati, maka jiwa dalam kegelapan. Dan sebaliknya apabila hati bersih, maka jiwa diselimuti cahaya. Hati ibarat batu uranium yang apabila tersentuh cahaya, maka di kegelapan akan memancarkan cahaya, namun ketika tidak tersentuh cahaya hanyalah sebongkah batu keras yang tak berguna.

   Oleh karena itu seandainya hati kita ingin tersinari cahaya, maka senantiasalah kita mendekatkan hati kepada yang bercahaya. Sehingga kita bisa melihat dengan terang jalan yang sebenar-benarnya dan bisa memahami dengan jelas rambu-rambu yang telah dipancangkan oleh Allah SWT, karena sesungguhnya ibadah saja tidak cukup tanpa memahami maknanya. Sbagaimana firman-Nya :

”dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).....” (Al-A’raf, QS 7: 179)

   Mendekatkan hati kepada yang bercahaya dan sumber yang akan menghasilkan cahaya bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya :

  1. Allah SWT sebagai cahaya dan sumber dari segala cahaya, maka seringlah mengingat-Nya dengan memperbanyak zikir dan bertasbih kepada-Nya.
  2. Rasululullah SAW sebagai cahaya dan pembawa sumber cahaya, maka perbanyaklah membaca shalawat dan salam serta bertawasul kepadanya.
  3. Para waliyullah sebagai yang bercahaya dan pewaris para nabi yang membawa sumber cahaya, maka bertawasullah kepadanya, berharap dengan Izin-Nya, Allah SWT menurunkan syafaatnya.
  4. Al-Quran sebagai sumber cahaya, maka seringlah membaca serta memahaminya.   

   Berharaplah dengan sepenuh pengharapan kepada Allah SWT agar senantiasa Allah SWT mencurahkan cahaya-Nya, walau hanya seberkas saja akan terasa menyinari hati kita semua. Insya Allah atas Ridha-Nya, hitam akan berubah putih, kegelapan akan berubah terang benderang, hati yang bagai batu hitam tak bermakna akan berubah memancarkan kemilau cahaya. Di akhir kata semoga Seruan Allah SWT berikut ini akan memperkuat keteguhan hati kita dalam menyelusuri cahaya. Amin.

”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia maha penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab, QS 33:41-43)