Minggu, 23 Oktober 2011

MENYELUSURI CAHAYA


Oleh : Zamid al Zihar
 
   Pada hakikatnya hidup dan matinya manusia serta segala apa yang dikerjakan dan diperbuatnya di dunia hanyalah semata untuk Allah SWT. Sebagaimana firman-NYA :

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”  (Al-An’am, QS 6:162)

   Alam dunia adalah alam fana. Kehidupan manusia di dunia adalah merupakan sebuah perjalanan menuju tempat yang ditentukan Allah SWT yakni alam baka (akhirat), dimana ketika manusia sampai di akhir perjalanan dan memasuki gerbang alam akhirat ditandai oleh kematian di dunia. Selama proses perjalanan manusia di dunia, Maha Suci Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi memberikan peraturan yang harus ditaati oleh manusia. Apabila manusia mentaati peraturannya, maka di akhir perjalanan nanti Allah SWT akan memberikan penghargaan atas ketaatannya dengan menempatkannya langsung di tempat terindah (surga). Sedangkan apabila yang dilakukan manusia adalah sebaliknya, maka atas keingkarannya Allah SWT akan memasukannya ke tempat terburuk (neraka) untuk terlebih dahulu diberikan hukuman yang sangat menyakitkan, bahkan juga ada yang divonis sebagai penghuni kekal.

   Sudah barang tentu kita semua berkeinginan agar kelak perjalanan hidup kita berakhir di surga. Namun untuk mencapainya tentunya juga harus mampu melewati jalan yang benar yaitu jalan lurus yang telah ditentukan oleh Allah SWT berikut rambu-rambunya, bahkan kita diperintahkan-Nya agar senantiasa menapaki jalan itu. Sebagaimana yang di firmankan-Nya :

”dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am, QS 6:153)

   Dimanakah arah jalan yang benar, yang akan mengantarkan kita ke tempat terindah yang penuh kenikmatan itu? Jalan yang lurus hanya bisa ditempuh apabila kita membawa cahaya. Dengan cahaya akan begitu jelas terlihat jalan yang benar terbentang dihadapan kita, begitu juga rambu-rambunya akan dengan jelas bisa dipahami, sehingga kita tidak akan pernah tersesat. Mari kita renungkan, seandainya di malam hari manakala kita tengah berada di dalam kamar, lalu tiba-tiba listrik mati sehingga keadaannya menjadi gelap gulita, tentunya pada saat itu yang ada dalam pikiran kita adalah mencari dan menemukan sumber cahaya sebagai penerangan. Kemudian kita berusaha mencari jalan ke luar dengan mencoba berjalan perlahan-lahan sambil tangan meraba-raba, meskipun terkadang kepala harus terbentur lemari dan kaki tersandung kursi.

   Begitu sulitnya berjalan tanpa cahaya, bahkan kita bisa tersesat ke arah yang tidak dikehendaki. Allah SWT tentunya tidak begitu saja membiarkan umat-Nya di dunia ini mencari sendiri jalan yang diridhai-Nya tanpa memberinya petunjuk untuk memperoleh cahaya, karena sesungguhnya Allah-lah sumber dan pencipta cahaya. Sebagaimana firman-Nya :

”Allah (pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia Kehendaki, dan Allah Memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur, QS 24:35)

   Allah SWT sebagai pencipta cahaya dan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Allah menciptakan cahaya yang mampu mencahayai, itulah Rasulullah SAW dan para nabi lainnya. Sebagaimana firman-Nya :

”Hai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan Izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.” (Al-Ahzab, QS 33:45-46).

   Allah SWT Yang memiliki cahaya di atas cahaya, dan sebagai sumber dari segala sumber cahaya menurunkan Ayat-ayatnya melalui Rasulullah SAW. Itulah Al-Quran yang mengandung sumber cahaya. Rasulullah SAW sebagai cahaya dan pembawa sumber cahaya. Dan siapa saja yang tunduk kepada tuntunannya serta mentaati petunjuk dalam Al-Qur’an sebagai sumber cahaya yang di bawanya, maka di situlah kita akan menemukan dan mendapatkan cahaya. Cahaya di atas cahaya, berlapis menghasilkan cahaya, meskipun Rasulullah SAW telah tiada, namun cahayanya tetap memancar dan mewarisi para ’alimin yakni para ulama yang dianugerahkan sebagai waliyullah. Anas bin Malik ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Bahwasannya perumpamaan ulama di muka bumi itu adalah bagaikan bintang-bintang yang menjadi petunjuk kegelapan baik di darat maupun di laut. Oleh karenanya apabila bintang-bintang itu redup hampir-hampir para pemakai petunjuk itu sesat.” (Riwayat Ahmad).

   Para ulama dan para salihin sebagai orang-orang terpilih, cahayanya memancar dan tidak mencahayai, namun tentunya bisa dijadikan petunjuk untuk memperoleh cahaya yang membimbing ke jalan yang benar. Semakin banyak kita mendekati para salihin dan menerima petunjuknya, maka semakin terang cahaya yang membimbing kita. Laksana bintang gemintang di malam hari, semakin banyak yang terlihat mengedipkan sinarnya, maka semakin terang alam di sekitarnya. Sudah barang tentu berbeda dengan Rasulullah SAW beserta para nabi lainnya, bagaikan rembulan di malam hari, cahayanya memancar dan mampu mencahayai seisi jagad raya. Begitu agungnya kekuatan pancaran cahaya Rasulullah SAW, sehingga dengan mengingat saja serta bersholawat kepadanya kita akan mendapatkan pahala. Sebagaimana dikatakan Abdurrahman bin Auf ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Sesungguhnya Jibril as. Telah berkata kepadaku : Ketahuilah, aku akan memberi kabar gembira kepadamu, sesungguhnya Allah ’Azza Wa Jalla berfirman kepadamu : Barang siapa membaca sholawat atasmu, Aku (Allah) membaca sholawat atas dia, dan barang siapa membaca (mengucapkan) salam kepadamu, maka Aku (Allah) mengucapkan salam kepadanya.” (Riwayat Ahmad)

   Ada juga sebagian para ’alimin yang berpendapat bahwa para rasul, para waliyullah dan para salihin adalah merupakan cahaya yang mampu mencahayai. Memang benar, seorang shaikh atau maha guru tidak diragukan lagi ilmu dan ketaatannya kepada Allah SWT, begitu ikhlas menjauhkan dari keduniaan dan khusyu menjalani kehidupan spiritual guna mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sehingga setiap perkataan dalam syiarnya mengandung kekuatan kebenaran. Itulah cahaya yang membias dari seorang waliyullah, semakin kita sering mendekatkan diri dengannya meskipun hanya dengan memaknai setiap perkataannya, maka safaatnya akan semakin terasa menciptakan cahaya yang mampu membimbing hati. Rasulullah SAW sebagai manusia luar biasa tentunya berbeda dengan umat-umat lainnya selain para nabi. Di hadapan Allah Yang Maha kuasa beliau memiliki keistimewaan tersendiri, sehingga dengan hanya mengingatnya saja kita akan mendapatkan pahala. Itulah cahaya yang mampu mencahayai.

   Lantas bagaimanakah sesungguhnya agar kita memperoleh cahaya guna mampu berjalan di jalan yang lurus dan benar? Dalam surah Asy-Syams (QS 91:8-10) Allah SWT berfirman :

”maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kepasikan dan jalan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Asy-Syam, QS 91:8-10}

Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kebaikan dan keburukan. Jiwa berpangkal di hati. Apabila hati kotor atau yang dinamakan terjangkit penyakit hati, maka jiwa dalam kegelapan. Dan sebaliknya apabila hati bersih, maka jiwa diselimuti cahaya. Hati ibarat batu uranium yang apabila tersentuh cahaya, maka di kegelapan akan memancarkan cahaya, namun ketika tidak tersentuh cahaya hanyalah sebongkah batu keras yang tak berguna.

   Oleh karena itu seandainya hati kita ingin tersinari cahaya, maka senantiasalah kita mendekatkan hati kepada yang bercahaya. Sehingga kita bisa melihat dengan terang jalan yang sebenar-benarnya dan bisa memahami dengan jelas rambu-rambu yang telah dipancangkan oleh Allah SWT, karena sesungguhnya ibadah saja tidak cukup tanpa memahami maknanya. Sbagaimana firman-Nya :

”dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).....” (Al-A’raf, QS 7: 179)

   Mendekatkan hati kepada yang bercahaya dan sumber yang akan menghasilkan cahaya bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya :

  1. Allah SWT sebagai cahaya dan sumber dari segala cahaya, maka seringlah mengingat-Nya dengan memperbanyak zikir dan bertasbih kepada-Nya.
  2. Rasululullah SAW sebagai cahaya dan pembawa sumber cahaya, maka perbanyaklah membaca shalawat dan salam serta bertawasul kepadanya.
  3. Para waliyullah sebagai yang bercahaya dan pewaris para nabi yang membawa sumber cahaya, maka bertawasullah kepadanya, berharap dengan Izin-Nya, Allah SWT menurunkan syafaatnya.
  4. Al-Quran sebagai sumber cahaya, maka seringlah membaca serta memahaminya.   

   Berharaplah dengan sepenuh pengharapan kepada Allah SWT agar senantiasa Allah SWT mencurahkan cahaya-Nya, walau hanya seberkas saja akan terasa menyinari hati kita semua. Insya Allah atas Ridha-Nya, hitam akan berubah putih, kegelapan akan berubah terang benderang, hati yang bagai batu hitam tak bermakna akan berubah memancarkan kemilau cahaya. Di akhir kata semoga Seruan Allah SWT berikut ini akan memperkuat keteguhan hati kita dalam menyelusuri cahaya. Amin.

”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia maha penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab, QS 33:41-43)

1 komentar:

  1. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus