Senin, 31 Oktober 2011

MEMAKAN DAGING SAUDARA SENDIRI


 

Oleh : Zamid al Zihar


   Sebagai makhluk sosial, manusia suka berkelompok atau berkumpul baik dalam suatu kegiatan yang dilandasi tujuan-tujuan tertentu untuk kepentingan bersama maupun hanya sekedar ngobrol-ngobrol biasa atau apa yang biasa disebut dengan ngerumpi. Ngerumpi bisa terjadi di mana saja, kapan saja, entah siang atau malam hari, baik dilakukan oleh para laki-laki, para perempuan maupun kedua-keduanya. Adanya ngerumpi disamping karena sengaja hanya untuk sekedar melepas jenuh sambil ngopi ataupun nyantap makanan kecil, juga bisa karena diawali adanya pertemuan khusus baik urusan pekerjaan ataupun kemasyarakatan. Ngerumpi sama saja dengan ngobrol-ngobrol biasa, saling curhat antar pribadi, ngobrol masalah politik, masalah lingkungan dan masalah umum lainnya yang biasanya diwarnai dengan canda dan tawa. Namun demikian ngerumpi bisa menjadi ngobrol-ngobrol yang luar biasa, jika saja isi obrolannya mengarah kepada suatu keburukan.

   Dalam bermasyarakat tentunya berkumpul atau yang dikatakan ngerumpi itu adalah sesuatu hal yang sangat baik dan banyak sekali manfaatnya disamping sebagai wadah aspirasi social, juga merupakan sarana penyambung tali silaturahmi serta pengikat erat tali persaudaraan. Namun di sisi lain berkumpul juga sarat akan keburukan dan riskan terhadap campur tangan setan. Jiwa manusia terkadang bagaikan sebuah pohon yang terombang-ambing angin, angin ke barat akan condong ke barat dan angin ke timur akan condong ke timur, bilamana satu atau sebagian membicarakan ikhwal kebaikan maka semua akan bicara kebaikan, tetapi begitu setan dengan licik menghembuskan fitnahnya maka suasananya akan berubah menjadi keburukan. Di situlah adanya yang dimaksud dengan obrolan-obrolan luar biasa yakni menggunjing keburukan orang lain atau apa yang dinamakan oleh islam dengan ghibah.

   Menurut Syaikh Imam Al-Ghazali dalam buku Penyakit Hati karya Ibrahim M.Al-Jamal, dikatakan bahwa pengertian dan batasan ghibah adalah membicarakan sesuatu yang terdapat pada orang lain, yang jika sampai kepadanya dia tidak akan menyukainya. Pembicaraan dalam hal ini tentunya mengenai keburukan dan kekurangan orang lain seperti yang berhubungan dengan akhlaknya, perbuatannya, masalah agamanya, masalah keadaannya, masalah rumah tangganya, urusan keduniaannya, berburuk sangka dan lain sebagainya. Dampak dari perbuatan menggunjing (ghibah), bagi dirinya sendiri akan memunculkan kesombongan, riya, merasa dirinya yang terbaik dan bahkan bisa timbul perbuatan mengadu domba (namimah). Sementara bagi pihak yang digunjingnya jika saja orang itu tahu, maka kemungkinannya akan menimbulkan keretakan dalam kerukunan bermasyarakat, dan lebih jauh lagi tidak jarang yang berakibat kepada keretakan dalam rumah tangganya. Begitu jahat dan buruknya orang-orang yang menggunjing, sehingga Allah SWT menyamakannya dengan orang-orang yang suka makan daging saudaranya sendiri, sebagaimana firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujarat, QS 49 : 12)

   Kegiatan ber-ghibah ria terjadi karena adanya pertemuan dua orang atau lebih. Dalam kehidupan masyarakat, disadari atau tidak kenyataannya sering kali hal ini terjadi dan dilakukan oleh sekumpulan para perempuan terkhusus ibu-ibu rumah tangga, bisa saja kemungkinannya selain karena sudah merupakan karakter perempuan, juga didukung besarnya peluang atau kesempatan waktu mereka untuk saling bersosialisasi. Misalnya pertemuan tanpa terencana yang biasanya terjadi setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, pertemuan ketika menunggu waktu anak-anaknya sekolah (TK/SD), pertemuan dalam kegiatan arisan, dan yang lebih memprihatinkan tidak jarang juga terjadi dalam kelompok kegiatan keagamaan semisal pengajian. Padahal sesungguhnya kita semua saudara, terlebih terhadap sesama muslim, selayaknyalah saling menjaga hubungan persaudaraan serta satu sama lainnya tidaklah saling mencela. Sebagaimana dikatakan Abdullah bin Umar ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

“Orang Islam itu adalah saudara orang Islam, ia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkannya. Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang melepaskan kesulitan orang Islam niscaya Allah akan melepaskan kesulitan-kesulitannya nanti di hari Qiyamat, dan barang siapa yang menutupi cela orang Islam niscaya Allah akan menutupinya nanti di hari Qiyamat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

   Lidah itu meskipun bukanlah sebilah pisau, akan tetapi bisa menyayat hingga begitu menyakitkan. Lidah itu tajam bisa melukai orang lain. Oleh karena itu jika kita tidak ingin merasakannya, maka jagalah perkataan kita agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Hendaklah juga kita berhati-hati terhadap orang-orang yang selalu menggunjingkan tentang keburukan orang lain kepada kita, sebab kemungkinannya juga suatu saat ia akan menggunjingkan kita kepada orang lain. Menggunjing dan berprasangka buruk kepada orang lain sama saja dengan menebar fitnah, artinya juga sama dengan perbuatan setan yang apabila kita terlibat di dalamnya maka akan menuai dosa, sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”  (Al-Hujarat, QS 49 : 12)

Bahkan Syaikh Imam Al-Ghazali mengatakan : “ Ketahuilah bahwa berburuk sangka itu hukumnya haram, seperti hukumnya mengatakan perkataan yang buruk. Maka, sebagaimana diharamkan atas kamu untuk membicarakan orang lain tentang keburukan-keburukannya, diharamkan pula untuk mendetikkan di dalam hati dan berburuk sangka terhadap orang lain. Yang saya maksudkan bukan hanya keyakinan hati, tetapi juga mengklaimnya dengan keburukan.”

   Saudaraku, jadikanlah sesama itu sebagai saudara, salinglah menghargai privasinya serta tidak lantas saling umbar kebaikan atau kehebatan diri sendiri sementara tidak habis-habisnya merendahkan dan mencela orang lain. Bila saja tidak bisa berkata baik mengenai seseorang, maka janganlah juga berkata buruk tentang orang itu, karena sesungguhnya belum tentu orang tersebut lebih buruk dari kita, bahkan tidak menutup kemungkinan kenyataannya bisa sebaliknya bahwa kitalah yang justru lebih buruk dari pada mereka. Sesungguhnya pula antara sesama mukmin bagaikan satu tubuh, di mana mencela sesama mukmin berarti juga mencela diri sendiri. Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri...” (Al-Hujarat, QS 49 : 11)

   Jika saja kita mau banyak bertanya kepada diri sendiri tentang hati dan perasaan, juga tentang kekurangan dan kelemahan diri sendiri, maka mungkin kita akan terhanyut ke dalam hati dan perasaan orang lain, juga kita akan bisa lebih memahami kekurangan dan kelemahan orang lain. Sekalipun kita melihat kenyataannya orang lain itu buruk, maka janganlah lantas di buruk-burukan apalagi sampai digunjingkan, akan tetapi jadikanlah sebuah pembelajaran agar kita terhindar dari hal seperti itu. Terlebih kalau kita hanya mendengar dari seseorang, yang mana kita sendiri tidak ada pengetahuan tentang apa yang disampaikan oleh orang itu, maka jauhkanlah dari berprasangka agar kita terhindar dari perbuatan yang merugikan. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang pasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujarat, QS 49 : 6)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (Al-Isra, QS 17 : 36).

   Saudaraku, tidak akan pernah putus keburukan itu selama kita tidak pernah berupaya mengendalikannya, dan tidak akan pernah lekang kebaikan itu selama kita ada kemauan menjaganya. Membenci adalah sifatnya kemanusiaan, menyayangi adalah sifatnya ketuhanan. Manusia acap kali menebar kebencian, namun mereka yang suka menyayangi sesamanya adalah sangat terpuji di hadapan Tuhan Allah SWT. Jika sekarang dan kemarin dipenuhi keburukan, maka jadikanlah besok dan ke depannya sarat dengan kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang suka memakan daging saudara sendiri. Amin.  

2 komentar:

  1. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus
  2. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus