Oleh : Zamid al Zihar
Sebagai makhluk sosial, manusia suka berkelompok atau berkumpul baik
dalam suatu kegiatan yang dilandasi tujuan-tujuan tertentu untuk kepentingan
bersama maupun hanya sekedar ngobrol-ngobrol biasa atau apa yang biasa disebut
dengan ngerumpi. Ngerumpi bisa terjadi di mana saja, kapan saja, entah siang
atau malam hari, baik dilakukan oleh para laki-laki, para perempuan maupun
kedua-keduanya. Adanya ngerumpi disamping karena sengaja hanya untuk sekedar
melepas jenuh sambil ngopi ataupun nyantap makanan kecil, juga bisa karena diawali
adanya pertemuan khusus baik urusan pekerjaan ataupun kemasyarakatan. Ngerumpi
sama saja dengan ngobrol-ngobrol biasa, saling curhat antar pribadi, ngobrol
masalah politik, masalah lingkungan dan masalah umum lainnya yang biasanya
diwarnai dengan canda dan tawa. Namun demikian ngerumpi bisa menjadi
ngobrol-ngobrol yang luar biasa, jika saja isi obrolannya mengarah kepada suatu
keburukan.
Dalam bermasyarakat tentunya berkumpul atau yang dikatakan ngerumpi itu
adalah sesuatu hal yang sangat baik dan banyak sekali manfaatnya disamping sebagai
wadah aspirasi social, juga merupakan sarana penyambung tali silaturahmi serta
pengikat erat tali persaudaraan. Namun di sisi lain berkumpul juga sarat akan
keburukan dan riskan terhadap campur tangan setan. Jiwa manusia terkadang bagaikan
sebuah pohon yang terombang-ambing angin, angin ke barat akan condong ke barat
dan angin ke timur akan condong ke timur, bilamana satu atau sebagian
membicarakan ikhwal kebaikan maka semua akan bicara kebaikan, tetapi begitu
setan dengan licik menghembuskan fitnahnya maka suasananya akan berubah menjadi
keburukan. Di situlah adanya yang dimaksud dengan obrolan-obrolan luar biasa
yakni menggunjing keburukan orang lain atau apa yang dinamakan oleh islam
dengan ghibah.
Menurut Syaikh Imam Al-Ghazali dalam buku Penyakit Hati karya Ibrahim M.Al-Jamal, dikatakan bahwa pengertian
dan batasan ghibah adalah membicarakan sesuatu yang terdapat pada
orang lain, yang jika sampai kepadanya dia tidak akan menyukainya.
Pembicaraan dalam hal ini tentunya mengenai keburukan dan kekurangan orang lain
seperti yang berhubungan dengan akhlaknya, perbuatannya, masalah agamanya, masalah
keadaannya, masalah rumah tangganya, urusan keduniaannya, berburuk sangka dan
lain sebagainya. Dampak dari perbuatan menggunjing (ghibah), bagi dirinya sendiri akan memunculkan kesombongan, riya, merasa
dirinya yang terbaik dan bahkan bisa timbul perbuatan mengadu domba (namimah). Sementara bagi pihak yang
digunjingnya jika saja orang itu tahu, maka kemungkinannya akan menimbulkan
keretakan dalam kerukunan bermasyarakat, dan lebih jauh lagi tidak jarang yang
berakibat kepada keretakan dalam rumah tangganya. Begitu jahat dan buruknya orang-orang
yang menggunjing, sehingga Allah SWT menyamakannya dengan orang-orang yang suka
makan daging saudaranya sendiri, sebagaimana firman-Nya :
“Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa
dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah sebagian
kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.” (Al-Hujarat,
QS 49 : 12)
Kegiatan ber-ghibah ria terjadi
karena adanya pertemuan dua orang atau lebih. Dalam kehidupan masyarakat,
disadari atau tidak kenyataannya sering kali hal ini terjadi dan dilakukan oleh
sekumpulan para perempuan terkhusus ibu-ibu rumah tangga, bisa saja
kemungkinannya selain karena sudah merupakan karakter perempuan, juga didukung besarnya
peluang atau kesempatan waktu mereka untuk saling bersosialisasi. Misalnya pertemuan
tanpa terencana yang biasanya terjadi setelah menyelesaikan pekerjaan rumah
tangga, pertemuan ketika menunggu waktu anak-anaknya sekolah (TK/SD), pertemuan
dalam kegiatan arisan, dan yang lebih memprihatinkan tidak jarang juga terjadi dalam
kelompok kegiatan keagamaan semisal pengajian. Padahal sesungguhnya kita semua
saudara, terlebih terhadap sesama muslim, selayaknyalah saling menjaga hubungan
persaudaraan serta satu sama lainnya tidaklah saling mencela. Sebagaimana
dikatakan Abdullah bin Umar ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :
“Orang Islam itu adalah saudara orang Islam, ia tidak menganiayanya dan
tidak pula membiarkannya. Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka
Allah memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang melepaskan kesulitan orang Islam
niscaya Allah akan melepaskan kesulitan-kesulitannya nanti di hari Qiyamat, dan
barang siapa yang menutupi cela orang Islam niscaya Allah akan menutupinya
nanti di hari Qiyamat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Lidah itu meskipun bukanlah
sebilah pisau, akan tetapi bisa menyayat hingga begitu menyakitkan. Lidah itu
tajam bisa melukai orang lain. Oleh karena itu jika kita tidak ingin
merasakannya, maka jagalah perkataan kita agar tidak menyinggung perasaan orang
lain. Hendaklah juga kita berhati-hati terhadap orang-orang yang selalu menggunjingkan
tentang keburukan orang lain kepada kita, sebab kemungkinannya juga suatu saat
ia akan menggunjingkan kita kepada orang lain. Menggunjing dan berprasangka
buruk kepada orang lain sama saja dengan menebar fitnah, artinya juga sama
dengan perbuatan setan yang apabila kita terlibat di dalamnya maka akan menuai dosa,
sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa
dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah sebagian
kamu menggunjing sebagian yang lain…” (Al-Hujarat, QS 49 : 12)
Bahkan Syaikh Imam Al-Ghazali
mengatakan : “ Ketahuilah bahwa berburuk sangka itu hukumnya haram, seperti
hukumnya mengatakan perkataan yang buruk. Maka, sebagaimana diharamkan atas
kamu untuk membicarakan orang lain tentang keburukan-keburukannya, diharamkan
pula untuk mendetikkan di dalam hati dan berburuk sangka terhadap orang lain.
Yang saya maksudkan bukan hanya keyakinan hati, tetapi juga mengklaimnya dengan
keburukan.”
Saudaraku, jadikanlah sesama itu sebagai saudara, salinglah menghargai
privasinya serta tidak lantas saling umbar kebaikan atau kehebatan diri sendiri
sementara tidak habis-habisnya merendahkan dan mencela orang lain. Bila saja
tidak bisa berkata baik mengenai seseorang, maka janganlah juga berkata buruk
tentang orang itu, karena sesungguhnya belum tentu orang tersebut lebih buruk
dari kita, bahkan tidak menutup kemungkinan kenyataannya bisa sebaliknya bahwa
kitalah yang justru lebih buruk dari pada mereka. Sesungguhnya pula antara
sesama mukmin bagaikan satu tubuh, di mana mencela sesama mukmin berarti juga mencela
diri sendiri. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik
dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya,
boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu
sendiri...” (Al-Hujarat,
QS 49 : 11)
Jika saja kita mau banyak bertanya
kepada diri sendiri tentang hati dan perasaan, juga tentang kekurangan dan
kelemahan diri sendiri, maka mungkin kita akan terhanyut ke dalam hati dan
perasaan orang lain, juga kita akan bisa lebih memahami kekurangan dan
kelemahan orang lain. Sekalipun kita melihat kenyataannya orang lain itu buruk,
maka janganlah lantas di buruk-burukan apalagi sampai digunjingkan, akan tetapi
jadikanlah sebuah pembelajaran agar kita terhindar dari hal seperti itu. Terlebih
kalau kita hanya mendengar dari seseorang, yang mana kita sendiri tidak ada
pengetahuan tentang apa yang disampaikan oleh orang itu, maka jauhkanlah dari
berprasangka agar kita terhindar dari perbuatan yang merugikan. Sebagaimana
Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang pasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu
menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujarat, QS 49 : 6)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggung-jawabannya.” (Al-Isra, QS 17 : 36).
Saudaraku, tidak akan pernah putus keburukan itu selama kita tidak
pernah berupaya mengendalikannya, dan tidak akan pernah lekang kebaikan itu
selama kita ada kemauan menjaganya. Membenci adalah sifatnya kemanusiaan,
menyayangi adalah sifatnya ketuhanan. Manusia acap kali menebar kebencian,
namun mereka yang suka menyayangi sesamanya adalah sangat terpuji di hadapan Tuhan
Allah SWT. Jika sekarang dan kemarin dipenuhi keburukan, maka jadikanlah besok
dan ke depannya sarat dengan kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang suka memakan daging
saudara sendiri. Amin.

DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^