CERPEN (Buah Inspirasi : Adinda Majang
Mulyadi)
“Banyak
orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan. Mereka hidup
tetapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia
dibalik kehidupan mereka. Mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan
umat maupun diri mereka sendiri“ (Dr. Aidh
al-Qarni).
Masih teringat jelas apa yang dikatakan nenek kepadaku bahwa : “kehidupan
agama sekarang ini semakin tersisihkan bahkan nyaris terlupakan, dimana
kebanyakan orang lebih disibukkan oleh urusan duniawi ketimbang urusan akhirat”.
Perkataan itu terlontar dua tahun yang lalu di celah percakapan kami ketika aku
tengah berlibur di rumahnya selepas kelulusan SD sekitar pertengahan tahun 2011.
Nenekku tinggal di kota kelahiranku Bogor, sementara sejak usiaku dua tahun aku
diboyong papa sejalan dengan tugas kerjanya tinggal di Tasikmalaya. Seperti
biasanya jika aku berkunjung ke rumah nenek, aku begitu dimanja dan disayang,
bahkan kerap diajak bercakap-cakap serta diberi nasihat baik yang berhubungan
dengan sekolah maupun ibadah.
Terhadap apa yang dikatakan nenekku itu aku
hanya sebatas bisa memahami, tapi jujur masih buram untuk bisa memaknainya
lebih dalam, maklum pada saat itu usiaku baru menginjak 12 tahun dan boleh
dibilang masih relative belia untuk bisa menangkap bobot kalimat yang tidak
biasanya kudengar serta bukan bahasa percakapan hari-hari dalam pergaulan
sebayaku. Meskipun demikian aku berusaha menyimaknya dan mencoba memberikan
respon dengan anggukan kepala. Nenekpun tersenyum, lalu mendekatku seraya membelai-belai
kepalaku dengan penuh kasih sayang.
“Kamu cucuku perempuan satu-satunya, kamu
harus banyak belajar agama ya, lihat majelis ta’lim milik keluarga besar kita
itu, nenek mengharapkan sekali kamu bisa melanjutkannya bahkan harus bisa lebih
maju lagi.” Katanya sambil tangan kanannya menunjuk ke arah sebuah bangunan
sarana majelis ta’lim yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah.
“Ya nek, insya Allah…” Sahutku dengan
nada seolah menggenggam sebuah kepastian.
“Oh ya, bagaimana ngajimu sudah lancar
belum?”
“Cuma bisa nek, tapi belum lancar.”
“Gak apa-apa, kamu anak pandai, belajar
terus ya..” Pungkas nenek sambil memelukku dengan rengkuhan memanjakan. Aku
tersenyum bahagia, terlebih di hatiku ada perasaan tersanjung.
Obrolan nenek denganku pada saat itu
kuanggap hanyalah obrolan biasa, tidak ada yang berlebihan, sebab akupun tahu
bahwa majelis ta’lim memang merupakan wadah keagamaan, dan nenek mengharapkan
kelak aku terlibat di dalamnya alih-alih bisa menggantikan posisi nenek yang
sudah berpuluh tahun sebagai pengelola. Tak ada yang luar biasa, bahkan
kuanggap harapan nenek kepada cucunya itu adalah wajar adanya. Sempat juga isi
obrolan kami kusampaikan kepada papa, dan papa menanggapinya dengan tersenyum
sembari bilang : “itu bagus sayang, papapun sama seperti nenekmu, berharap kamu
menjadi anak yang ta’at beribadah.”
Entah apa yang menjadikanku terdorong
untuk lebih mengetahui dan mendalami ilmu agama, yang pasti sekembali dari
Bogor hati dan pikiranku merambah kepada dunia keislaman. Mungkin hal itu tidak
sewajarnya hadir dalam pikiran anak-anak seusiaku, namun itulah kenyataannya,
dari perkataan nenekku itu seolah aku mendapatkan setitik cahaya untuk menapak
pada jalan sesungguhnya yang harus dilalui. Oleh karena itu aku bilang kepada
papa : “Enda ingin melanjutkan sekolah di pesantren pa..”. Keputusanku disambut
baik oleh papa, lalu papa segera mencarikan pesantren yang sesuai dengan
keinginanku, pesantren yang agak modern sekaligus ada pondokannya.
Tahun ajaran baru tiba, aku mulai
masuk sekolah setingkat SMP di salah satu pesantren yang boleh dibilang
mempunyai nama di Tasikmalaya. Aku mulai hidup mandiri, tinggal bersama
teman-teman baruku di pondok pesantren. Dunia pesantren memang bukanlah hal
yang asing bagiku, karena selama inipun kerap aku menuntut ilmu agama di
pesantren yang tidak jauh keberadaannya dari rumah, walaupun istilah ponpes aku
disebut sebagai santri kalong. Namun di pesantren yang aku lalui saat ini, aku
dihadapkan kepada sesuatu yang berbeda dengan kehidupanku hari-hari di rumah,
sungguh semula aku merasakan berat dan tertekan serta nyaris menyatakan tidak
sanggup. Bagaimana tidak, aku harus tidur berdesakan di satu kamar, harus
bangun pagi dan segala sesuatunya harus dijalani tepat sesuai jadwal, intinya
aku dituntut harus disiplin. Tidak jarang ketika berkunjung ke ponpes, papa dan
mama memberikan pengertian serta membesarkan hatiku untuk tetap teguh kepada
keinginan dan keyakinan.
Waktu berjalan, hari-harinya dari
pendidikan umum hingga pendidikan akhlaki yang sarat terpaan disiplin kulalui. Aku
harus mampu, namun tidak bisa kupungkiri gejolak hati untuk sebuah kebebasan di
luar jalur ketentuan lingkungan pondok selalu mengganggu pikiran. Sejalan
dengan itu, timbul keraguan untuk mampu bertahan, bahkan sempat tersirat keinginan
untuk keluar. Klimaknya suatu malam menjelang tidur, benakku melayang menjangkau
kehidupan diluar sana, pikiranku berselancar dengan keceriaan anak-anak
seusiaku dengan kebebasannya berekspresi. Namun ketika pikiranku tertuju kepada
tingkah laku anak-anak yang begitu pongah dengan sarana teknologi, dan ketika
membayangkan mereka ber-game ria di
warnet dengan tanpa mengenal waktu, maka satu poin aku mendapatkan sesuatu yang
membuat pikaranku menjadi sedikit dewasa, aku menganggap bahwa apa yang mereka
lakukan adalah sesuatu yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu saja. Belum
lagi ketika pikiranku tertuju kepada kehidupan orang-orang dewasa yang sibuk
dengan dunianya demi kepentingan jasmani serta tanpa memperhatikan waktu untuk bersiram
rohani, bahkan hal seperti itu mungkin saja terjadi dengan papaku yang selama
ini terkadang berangkat pagi dan pulang larut malam, bukan su’udzon meskipun
papa rajin ibadah, bisa saja karena kesibukannya lantas melupakan kewajiban
yang hakiki.
Berangkat dari jelajah pikiranku itu,
mengalir setitik cahaya terang membasuh hati, cahaya yang mengukir kekuatan
jiwa untuk tetap teguh dengan keinginanku, cahaya yang memacu semangatku untuk
meraih ilmu keagamaan, cahaya yang membuka pandangan buram menjadi bening. Sesaat
itu kembali teringat apa yang pernah dikatakan nenek bahwa sekarang ini
kebanyakan orang-orang lebih kepada kesibukan untuk kepentingan duniawi
dibanding kepentingan akhirat. Jika mengacu kepada kenyataan yang ada, maka
sepertinya apa yang dikatakan nenek itu benar. Kini aku bukan sekedar lagi memahami
artinya, akan tetapi lebih jauh mulai memahami maknanya, bahwa tujuan hidup
kita sesungguhnya bukanlah menumpuk perbekalan kehidupan di dunia melainkan
seharusnya menumpuk perbekalan untuk kehidupan di alam kekal. Terlebih lagi aku
pernah membaca tulisan Dr. Aidh al-Qarni : “Bahwa banyak orang yang tidak memainkan
peran yang seharusnya mereka perankan, Mereka hidup tetapi seperti orang yang
sudah mati, Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, Mereka
tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sndiri “. (Dalam buku yang berjudul Shina’atul
Hayati/Merancang Kehidupan dengan penulis Al-Rasyid).
Sejak
itu aku lebih bersemangat, perlahan tapi pasti segala kondisi yang bertolak
belakang dengan jiwa mudaku mampu kutepis dengan selalu berusaha melangkah pada
rel ketekunan dan kesabaran. Waktu bergulir, cahaya demi cahaya hadir membantu
menguatkan hatiku untuk tetap tegar menjalani kehidupan dalam meraih ilmu di
ponpes. Ditopang oleh cerita dan pesan nenek tentang majelis ta’lim, juga dipandu
papa dan mama tentang kesabaran, aku berusaha menghalau waktu yang sia-sia dan
hasilnya secara perlahan aku mampu menembus jalan terjal menuju waktu yang
bermanfaat. Aku semakin yakin dan percaya Allah akan memberikan yang terbaik
bagi kehidupanku kelak. Kini di tengah derasnya badai keceriaan dan kesenangan
duniawi, aku bisa merasakan ringan dalam melakukan segalanya, bahkan seiring
dengan itu timbul rasa nyaman dan rasa hampapun berganti keindahan. Inilah
mungkin yang dikatakan indah pada waktunya, indah dengan disiplinnya belajar
mengendalikan diri, indah berada di lingkungan dengan halaman yang luas, indah
tidur berdesakan karena ada rasa kebersamaan, indah bangun pagi dengan melakukan
sholat berjamaah dan segalanya dirasakan menjadi indah. Semoga Allah selalu
memberikan keindahan dalam perjalanku menuntut ilmu di pesantren ini, sehingga
kelak aku mampu menghadirkan segenggam cita-citaku serta merealisasikan apa
yang menjadi harapan nenek. Bukan bermaksud berlebihan jika akupun berharap mampu
merubah paradigma kehidupan, dimana urusan akhirat ditempatkan pada posisi
prioritas dari urusan duniawi. Amiin.***
(Zamid al Zihar : menyunting dari tulisan asli Adinda
Majang, pelajar Kls II SMP / santriwati ponpes Nurul Wafa Gunung Hideung,
Sukarame, Tasikmalaya).
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^
DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
BalasHapusBONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.biz
UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^