Minggu, 09 Desember 2012

MENJARING CAHAYA


CERPEN (Buah Inspirasi : Adinda Majang Mulyadi)

 “Banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan. Mereka hidup tetapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka. Mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan umat maupun diri mereka sendiri“ (Dr. Aidh al-Qarni).

          Masih teringat jelas apa yang dikatakan nenek kepadaku bahwa : “kehidupan agama sekarang ini semakin tersisihkan bahkan nyaris terlupakan, dimana kebanyakan orang lebih disibukkan oleh urusan duniawi ketimbang urusan akhirat”. Perkataan itu terlontar dua tahun yang lalu di celah percakapan kami ketika aku tengah berlibur di rumahnya selepas kelulusan SD sekitar pertengahan tahun 2011. Nenekku tinggal di kota kelahiranku Bogor, sementara sejak usiaku dua tahun aku diboyong papa sejalan dengan tugas kerjanya tinggal di Tasikmalaya. Seperti biasanya jika aku berkunjung ke rumah nenek, aku begitu dimanja dan disayang, bahkan kerap diajak bercakap-cakap serta diberi nasihat baik yang berhubungan dengan sekolah maupun ibadah. 

           Terhadap apa yang dikatakan nenekku itu aku hanya sebatas bisa memahami, tapi jujur masih buram untuk bisa memaknainya lebih dalam, maklum pada saat itu usiaku baru menginjak 12 tahun dan boleh dibilang masih relative belia untuk bisa menangkap bobot kalimat yang tidak biasanya kudengar serta bukan bahasa percakapan hari-hari dalam pergaulan sebayaku. Meskipun demikian aku berusaha menyimaknya dan mencoba memberikan respon dengan anggukan kepala. Nenekpun tersenyum, lalu mendekatku seraya membelai-belai kepalaku dengan penuh kasih sayang.
       “Kamu cucuku perempuan satu-satunya, kamu harus banyak belajar agama ya, lihat majelis ta’lim milik keluarga besar kita itu, nenek mengharapkan sekali kamu bisa melanjutkannya bahkan harus bisa lebih maju lagi.” Katanya sambil tangan kanannya menunjuk ke arah sebuah bangunan sarana majelis ta’lim yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah.
       “Ya nek, insya Allah…” Sahutku dengan nada seolah menggenggam sebuah kepastian.
       “Oh ya, bagaimana ngajimu sudah lancar belum?”
       “Cuma bisa nek, tapi belum lancar.”
       “Gak apa-apa, kamu anak pandai, belajar terus ya..” Pungkas nenek sambil memelukku dengan rengkuhan memanjakan. Aku tersenyum bahagia, terlebih di hatiku ada perasaan tersanjung.

          Obrolan nenek denganku pada saat itu kuanggap hanyalah obrolan biasa, tidak ada yang berlebihan, sebab akupun tahu bahwa majelis ta’lim memang merupakan wadah keagamaan, dan nenek mengharapkan kelak aku terlibat di dalamnya alih-alih bisa menggantikan posisi nenek yang sudah berpuluh tahun sebagai pengelola. Tak ada yang luar biasa, bahkan kuanggap harapan nenek kepada cucunya itu adalah wajar adanya. Sempat juga isi obrolan kami kusampaikan kepada papa, dan papa menanggapinya dengan tersenyum sembari bilang : “itu bagus sayang, papapun sama seperti nenekmu, berharap kamu menjadi anak yang ta’at beribadah.”

          Entah apa yang menjadikanku terdorong untuk lebih mengetahui dan mendalami ilmu agama, yang pasti sekembali dari Bogor hati dan pikiranku merambah kepada dunia keislaman. Mungkin hal itu tidak sewajarnya hadir dalam pikiran anak-anak seusiaku, namun itulah kenyataannya, dari perkataan nenekku itu seolah aku mendapatkan setitik cahaya untuk menapak pada jalan sesungguhnya yang harus dilalui. Oleh karena itu aku bilang kepada papa : “Enda ingin melanjutkan sekolah di pesantren pa..”. Keputusanku disambut baik oleh papa, lalu papa segera mencarikan pesantren yang sesuai dengan keinginanku, pesantren yang agak modern sekaligus ada pondokannya.

          Tahun ajaran baru tiba, aku mulai masuk sekolah setingkat SMP di salah satu pesantren yang boleh dibilang mempunyai nama di Tasikmalaya. Aku mulai hidup mandiri, tinggal bersama teman-teman baruku di pondok pesantren. Dunia pesantren memang bukanlah hal yang asing bagiku, karena selama inipun kerap aku menuntut ilmu agama di pesantren yang tidak jauh keberadaannya dari rumah, walaupun istilah ponpes aku disebut sebagai santri kalong. Namun di pesantren yang aku lalui saat ini, aku dihadapkan kepada sesuatu yang berbeda dengan kehidupanku hari-hari di rumah, sungguh semula aku merasakan berat dan tertekan serta nyaris menyatakan tidak sanggup. Bagaimana tidak, aku harus tidur berdesakan di satu kamar, harus bangun pagi dan segala sesuatunya harus dijalani tepat sesuai jadwal, intinya aku dituntut harus disiplin. Tidak jarang ketika berkunjung ke ponpes, papa dan mama memberikan pengertian serta membesarkan hatiku untuk tetap teguh kepada keinginan dan keyakinan.

          Waktu berjalan, hari-harinya dari pendidikan umum hingga pendidikan akhlaki yang sarat terpaan disiplin kulalui. Aku harus mampu, namun tidak bisa kupungkiri gejolak hati untuk sebuah kebebasan di luar jalur ketentuan lingkungan pondok selalu mengganggu pikiran. Sejalan dengan itu, timbul keraguan untuk mampu bertahan, bahkan sempat tersirat keinginan untuk keluar. Klimaknya suatu malam menjelang tidur, benakku melayang menjangkau kehidupan diluar sana, pikiranku berselancar dengan keceriaan anak-anak seusiaku dengan kebebasannya berekspresi. Namun ketika pikiranku tertuju kepada tingkah laku anak-anak yang begitu pongah dengan sarana teknologi, dan ketika membayangkan mereka ber-game ria di warnet dengan tanpa mengenal waktu, maka satu poin aku mendapatkan sesuatu yang membuat pikaranku menjadi sedikit dewasa, aku menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu saja. Belum lagi ketika pikiranku tertuju kepada kehidupan orang-orang dewasa yang sibuk dengan dunianya demi kepentingan jasmani serta tanpa memperhatikan waktu untuk bersiram rohani, bahkan hal seperti itu mungkin saja terjadi dengan papaku yang selama ini terkadang berangkat pagi dan pulang larut malam, bukan su’udzon meskipun papa rajin ibadah, bisa saja karena kesibukannya lantas melupakan kewajiban yang hakiki.  

          Berangkat dari jelajah pikiranku itu, mengalir setitik cahaya terang membasuh hati, cahaya yang mengukir kekuatan jiwa untuk tetap teguh dengan keinginanku, cahaya yang memacu semangatku untuk meraih ilmu keagamaan, cahaya yang membuka pandangan buram menjadi bening. Sesaat itu kembali teringat apa yang pernah dikatakan nenek bahwa sekarang ini kebanyakan orang-orang lebih kepada kesibukan untuk kepentingan duniawi dibanding kepentingan akhirat. Jika mengacu kepada kenyataan yang ada, maka sepertinya apa yang dikatakan nenek itu benar. Kini aku bukan sekedar lagi memahami artinya, akan tetapi lebih jauh mulai memahami maknanya, bahwa tujuan hidup kita sesungguhnya bukanlah menumpuk perbekalan kehidupan di dunia melainkan seharusnya menumpuk perbekalan untuk kehidupan di alam kekal. Terlebih lagi aku pernah membaca tulisan Dr. Aidh al-Qarni : Bahwa banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan, Mereka hidup tetapi seperti orang yang sudah mati, Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, Mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sndiri “. (Dalam buku yang berjudul Shina’atul Hayati/Merancang Kehidupan dengan penulis Al-Rasyid).

          Sejak itu aku lebih bersemangat, perlahan tapi pasti segala kondisi yang bertolak belakang dengan jiwa mudaku mampu kutepis dengan selalu berusaha melangkah pada rel ketekunan dan kesabaran. Waktu bergulir, cahaya demi cahaya hadir membantu menguatkan hatiku untuk tetap tegar menjalani kehidupan dalam meraih ilmu di ponpes. Ditopang oleh cerita dan pesan nenek tentang majelis ta’lim, juga dipandu papa dan mama tentang kesabaran, aku berusaha menghalau waktu yang sia-sia dan hasilnya secara perlahan aku mampu menembus jalan terjal menuju waktu yang bermanfaat. Aku semakin yakin dan percaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi kehidupanku kelak. Kini di tengah derasnya badai keceriaan dan kesenangan duniawi, aku bisa merasakan ringan dalam melakukan segalanya, bahkan seiring dengan itu timbul rasa nyaman dan rasa hampapun berganti keindahan. Inilah mungkin yang dikatakan indah pada waktunya, indah dengan disiplinnya belajar mengendalikan diri, indah berada di lingkungan dengan halaman yang luas, indah tidur berdesakan karena ada rasa kebersamaan, indah bangun pagi dengan melakukan sholat berjamaah dan segalanya dirasakan menjadi indah. Semoga Allah selalu memberikan keindahan dalam perjalanku menuntut ilmu di pesantren ini, sehingga kelak aku mampu menghadirkan segenggam cita-citaku serta merealisasikan apa yang menjadi harapan nenek. Bukan bermaksud berlebihan jika akupun berharap mampu merubah paradigma kehidupan, dimana urusan akhirat ditempatkan pada posisi prioritas dari urusan duniawi. Amiin.***
(Zamid al Zihar : menyunting dari tulisan asli Adinda Majang, pelajar Kls II SMP / santriwati ponpes Nurul Wafa Gunung Hideung, Sukarame, Tasikmalaya).

2 komentar:

  1. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus
  2. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.biz
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus